Faktor utama revisi ini adalah rencana penandatanganan kesepakatan damai di Swiss.

Citi menjadi institusi paling pesimistis dengan memangkas proyeksi harga Brent kuartal III 2026 menjadi 75 dolar AS per barel.

Harga diperkirakan turun lebih lanjut menjadi rata-rata 70 dolar AS per barel pada kuartal IV 2026, dan 65 dolar AS per barel pada 2027.

Pandangan Citi mencerminkan ekspektasi pemulihan pasokan minyak global yang lebih cepat sehingga menekan harga.

Patokan internasional Brent sempat turun ke level terendah sejak awal Maret 2026 setelah kabar kesepakatan damai awal.

Kesepakatan yang akan ditandatangani di Swiss itu berpotensi membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari. Pembukaan ini dapat meningkatkan pasokan global dan mengurangi risiko gangguan distribusi energi.

Namun, Goldman Sachs mencatat pemulihan pasokan bisa berlangsung lebih cepat dan lebih besar dari perkiraan.

Arus minyak dari kawasan Teluk saat ini mencapai sekitar 11 juta barel per hari berkat pelonggaran lalu lintas kapal dan pengalihan distribusi darat.

Produsen besar seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dapat meningkatkan produksi dengan cepat untuk memenuhi permintaan.

Di sisi lain, risiko seperti kehati-hatian perusahaan pelayaran dan proses pembersihan ranjau di Selat Hormuz dapat mendorong harga lebih tinggi.

Goldman Sachs juga mengingatkan tidak ada jaminan Iran tidak akan kembali mengancam penutupan Selat Hormuz jika negosiasi tersendat.

>>> Microsoft Resmi Luncurkan Surface Pro 12 dan Surface Laptop 8 dengan Chip Snapdragon X2

Dalam skenario gangguan berlanjut, harga Brent diperkirakan bisa mencapai 130 dolar AS per barel pada akhir 2026.