Ekspedisi laut dalam ini berjalan di bawah naungan Program Eksplorasi Palung Hadal Global yang melibatkan kolaborasi internasional untuk memetakan wilayah terdalam samudra.

"Saat kami pertama kali mengamati situs ini, hal itu benar-benar mengejutkan semua orang," tambah Zhou.

Tim peneliti berlayar menggunakan kapal riset Tan Suo Yi Hao dan mengoperasikan kapal selam Fendouzhe yang pernah mencapai dasar Palung Mariana pada 2020.

>>> Umat Muslim Dianjurkan Puasa Tasua dan Asyura di Bulan Muharram

Mereka berhasil mendokumentasikan visual nekropolis tersebut serta mengambil 43 sampel fosil beserta hewan pemakan bangkai memakai lengan robotik.

Distribusi dan kerapatan fosil di situs ini menjadi poin yang paling mencengangkan.

Pada beberapa titik, kepadatan sisa-sisa paus mencapai 760 fragmen per kilometer persegi, angka tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah oseanografi.

"Menurut perkiraan kami, ada lebih dari 10 juta sisa paus tergeletak di dasar laut palung ini," sebut Zhou.

Identifikasi Spesies Modern dan Purba

Jumlah tulang di area tersebut berpotensi lebih masif karena banyak yang diduga telah tertimbun sedimen dasar laut.

Melalui 32 misi penyelaman sepanjang Februari hingga Maret 2023, ilmuwan berhasil mengidentifikasi satu bangkai modern sebagai paus minke sepanjang 3 meter.

Kerangka dari spesies modern lain seperti paus paruh Andrew ditemukan berdampingan dengan fosil dari genus purba Pterocetus yang telah punah.

Komponen fosil tertua yang teridentifikasi merupakan milik Pterocetus benguelae yang diperkirakan berusia 5,3 juta tahun.

"Menemukan genus punah seperti Pterocetus dan spesies yang masih hidup seperti Mesoplodon bowdoini terawetkan di wilayah yang sama, membentang 1.200 kilometer di dasar laut pada kedalaman ekstrem seperti itu sungguh di luar dugaan," kata Zhou.

Faktor topografi Zona Diamantina yang berbentuk menyerupai huruf V menjadi jawaban ilmiah di balik tingginya konsentrasi bangkai.

Struktur palung bertindak seperti corong raksasa yang mengumpulkan bangkai, sementara minimnya pergerakan sedimen membuat tulang tetap terekspos.

Proses mineralisasi laut dalam yang berlangsung selama jutaan tahun kemudian membentuk kerak keras pada tulang dan mengubahnya menjadi fosil.

>>> Laba Operasional BCA Tumbuh Melambat Jadi Rp31,4 Triliun

Dalam ekspedisi ini, ilmuwan juga mendeteksi fragmen tengkorak dari spesies baru yang belum pernah dikenal sebelumnya, yang kini dinamai Pterocetus diamantinae.