Purbaya mengatakan, "Sehingga akan jauh berkurang (beban subsidi) dan ada ruang untuk memberi pembiayaan program-program lain yang dianggap penting oleh presiden.

Jadi kita lihat seperti apa perkembangannya, kemudian baru kita sesuaikan."

Dorongan Reformasi Struktural

Selain faktor eksternal, Bank Dunia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berpotensi meningkat lebih tinggi apabila didukung implementasi reformasi struktural yang efektif.

Beberapa faktor yang dinilai dapat memperkuat pertumbuhan antara lain percepatan implementasi perjanjian perdagangan yang baru ditandatangani, deregulasi untuk mengurangi hambatan usaha, peningkatan koordinasi logistik, serta reformasi fiskal yang kredibel.

Bank Dunia menyatakan, "Hal-hal tersebut akan memperkuat kepercayaan investor dan membantu meningkatkan potensi pertumbuhan, bukan sekadar menopang permintaan."

Bank Dunia juga menilai peningkatan penerimaan dari sektor komoditas dapat memberikan tambahan ruang fiskal bagi pemerintah.

Namun, manfaat jangka panjang akan lebih optimal apabila dana tersebut digunakan untuk memperkuat cadangan fiskal dan membiayai program-program dengan dampak ekonomi yang tinggi.

Dalam asumsi awal, perekonomian Indonesia diprediksi tumbuh 5,2 persen pada 2027 dan 2028, setelah sentimen negatif eksternal mereda dan reformasi domestik mendukung sektor investasi.

Situasi yang lebih kondusif itu akan diikuti peningkatan permintaan kredit sektor swasta, meredanya tekanan lebih lanjut di pasar komoditas, dan mulai terlihatnya perbaikan iklim investasi.

Tiga hal itu akan mendorong kinerja ekspor yang selanjutnya berkontribusi lebih terhadap perekonomian nasional.

Dari sisi penawaran, sektor manufaktur berbasis komoditas, agribisnis, konstruksi, jasa, dan digital diperkirakan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan.

>>> Kylian Mbappe Tolak Jadi Presiden Prancis Setelah Pensiun

Namun, kekuatan pemulihan akan bergantung pada laju implementasi reformasi dan kemampuan untuk menarik investasi swasta.