Angka itu sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi pemerintah dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 5,4 persen.

Perbaikan prospek tersebut tidak lepas dari perkembangan geopolitik terbaru.

Pada akhir pekan lalu, Amerika Serikat dan Iran dilaporkan sepakat mengakhiri konflik bersenjata yang berlangsung hampir empat bulan.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang bertindak sebagai mediator mengumumkan kedua negara berkomitmen menghentikan seluruh operasi militer, termasuk di Lebanon.

Salah satu poin penting dalam kesepakatan tersebut adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.

Kabar tersebut langsung direspons pasar dengan penurunan harga minyak mentah Brent menjadi sekitar US$ 81 per barel hingga Selasa (16/6/2026) sore WIB, jauh lebih rendah dibandingkan level US$ 114 per barel yang sempat tercapai beberapa pekan sebelumnya.

>>> MPL Indonesia Lanjutkan Kolaborasi Creative Playground untuk Sektor Kreatif

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyampaikan bahwa potensi penurunan harga energi global dapat menurunkan kebutuhan subsidi energi pemerintah.

Dampak penaikan harga BBM subsidi baru-baru ini diperkirakan hanya akan berdampak minim kepada inflasi.

Di sisi lain, Bank Indonesia telah merespons tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan potensi lonjakan inflasi dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate menjadi 5,5 persen, naik 75 basis poin sejak Mei 2026.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga memperkirakan rata-rata harga minyak dunia akan turun ke level US$ 83 per barel pada tahun ini, seiring respons pasar terhadap kesepakatan damai AS-Iran.

Penurunan tersebut diyakini Menteri Keuangan Purbaya dapat memperlonggar ruang fiskal pemerintah dan membuka peluang pembiayaan program-program prioritas yang mendukung pertumbuhan ekonomi.