Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives anjlok ke level terendah dalam tiga pekan pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026.

Tekanan terhadap komoditas ini dipicu oleh menguatnya nilai tukar ringgit Malaysia. Pelemahan harga minyak nabati saingan di bursa Chicago dan Dalian juga turut memperberat posisi CPO.

>>> Pengemudi Ojek Online Bertahan Gunakan Pertalite Imbas Kenaikan Pertamax

Data penutupan perdagangan menunjukkan pergerakan harga yang bervariasi di setiap kontrak berjangka. Kontrak Juni 2026 menjadi satu-satunya yang mencatat kenaikan, sementara kontrak lainnya mengalami penurunan.

Sentimen negatif semakin diperparah oleh kemerosotan harga minyak mentah global ke level terendah sejak Maret.

Hal ini terjadi setelah adanya kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka kembali Selat Hormuz.

Faktor lain yang memengaruhi pasar adalah bertahannya tarif bea ekspor minyak sawit mentah Malaysia di angka 10%.

Kebijakan ini mengikuti penurunan harga referensi CPO sehingga kurang memberikan stimulus bagi ekspor.

>>> TVRI Siarkan Langsung 6 Laga Perdana Piala Dunia 2026 Mulai Rabu Dini Hari

Meskipun demikian, penurunan harga lebih lanjut dapat diredam oleh indikasi membaiknya permintaan.

Volume pengiriman minyak sawit naik sekitar 3,5% hingga 4,9% pada periode 1-10 Juni dibandingkan Mei.

Aspek cuaca juga memberikan sokongan.

Pemerintah Malaysia memperingatkan fenomena El Nino yang diproyeksikan berpotensi memotong total produksi sawit sebesar 8% hingga 10% pada tahun ini.

Di pasar internasional, India selaku importir minyak sawit terbesar mencatat kenaikan tipis volume impor pada Mei.

>>> Kode Redeem Wizard Legend Duel Mei 2026 Gratis, Klaim Hadiah Sekarang

Namun, total volume impor India masih di bawah angka normal karena banyak pengolah lebih memilih minyak kedelai yang lebih murah.