Jurnalis asal Den Haag, Belanda, Sam van Raalte, mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap kondisi sepak bola Indonesia melalui bukunya yang berjudul De Voetbalrepubliek.

Dalam buku yang terbit pada 2026 itu, ia menilai langkah skuad Garuda kerap terhambat oleh kepentingan politik praktis para penguasa.

>>> Kemenekraf Usulkan Tambahan Anggaran Rp 1,73 Triliun untuk 2027

Gairah besar masyarakat terhadap olahraga ini dianggap sering dimanfaatkan demi meningkatkan citra diri politikus di hadapan publik internasional.

Kritik terhadap Politisasi Sepak Bola

Sam van Raalte mengikuti perjalanan Timnas Indonesia hingga ke Arab Saudi di bawah asuhan pelatih Patrick Kluivert.

Meskipun tiket Piala Dunia pada akhirnya meleset, ia mengaku memiliki perasaan campur aduk karena melihat realitas di balik layar.

"Saya merasa kasihan kepada para pemain dan tentu saja kepada masyarakat Indonesia, tetapi di sisi lain saya juga belajar bagaimana politikus mencoba menggunakan kesuksesan untuk citra mereka sendiri," kata Sam van Raalte dikutip dari omroepwest, Senin (15/6/2026).

Figur otoritas di Indonesia dinilai sering kali mencoba menunggangi momen positif tim nasional demi keuntungan politik pribadi.

"Politik dan sepak bola saling terkait di Indonesia," ujar Sam van Raalte.

Kegagalan lolos ke Piala Dunia bahkan dipandang memiliki sisi baik agar tidak ada pihak yang mengklaim kesuksesan tersebut demi narasi politik jangka panjang.

Fanatisme Suporter dan Tragedi Kanjuruhan

Di samping kritik tajam terhadap keterlibatan politik, gairah suporter Indonesia tetap mendatangkan kekaguman besar.

Pengalaman menonton pertandingan di Jakarta, Sleman, hingga Bandung dirasakan jauh lebih berkesan dibandingkan atmosfer pertandingan di kota-kota besar Eropa.

"Mereka mengalaminya seperti sebuah agama, satu-satunya tempat saya melihat hal serupa adalah di Boca Juniors, Argentina," tutur Sam van Raalte.