Namun, sistem penanganan kesehatan di negara tuan rumah diklaim sudah siap mengantisipasi skenario terburuk.

"Risiko masuknya Ebola sangat rendah.

Jika hal itu terjadi, dengan peningkatan kesadaran, pasien harus segera didiagnosis dan dapat dirawat dengan aman oleh rumah sakit dan personel AS menggunakan prosedur pengendalian infeksi yang ketat," kata William Schaffner.

Ia juga mengingatkan bahwa Ebola tidak mudah menyebar, berbeda dengan influenza dan COVID-19.

Terkait potensi penyebaran campak akibat tingkat vaksinasi yang belum optimal di beberapa wilayah Amerika Serikat, penanganan cepat dinilai akan langsung berjalan jika ditemukan kasus baru.

"Ada kemungkinan terjadi masuknya campak atau penyakit lain yang dapat dicegah dengan vaksin," kata William Schaffner.

Sistem deteksi dini yang disiapkan diyakini mampu membatasi penyebaran virus ke kelompok masyarakat yang belum mendapatkan vaksin.

"Mengingat tingkat vaksinasi yang kurang optimal di AS, penyebaran virus ke orang yang belum divaksinasi mungkin terbatas.

Hal ini akan terdeteksi dengan cepat dan akan memicu respons kesehatan masyarakat. Sekali lagi, risiko terjadinya hal ini rendah," tutur William Schaffner.

>>> BYD Eropa Resmi Luncurkan Dolphin G DM-i, Hampir Rp 600 Juta

Metode Pelacakan Melalui Air Limbah dan Media Sosial

Otoritas kesehatan memanfaatkan teknologi modern berupa pengujian air limbah dan pemantauan media sosial untuk melacak potensi wabah secara dini.

Metode pemeriksaan air limbah ini diterapkan di beberapa wilayah Amerika Serikat, termasuk Massachusetts dan Texas, serta melibatkan tim kesehatan di Washington, D.

C.

Sistem pemantauan serupa sebelumnya telah sukses diterapkan pada Piala Dunia 2022 di Qatar.

Studi pada tahun 2024 menunjukkan bahwa pengawasan air limbah terbukti efektif mendeteksi infeksi dan melacak rantai penularan di masyarakat tanpa bergantung pada gejala klinis pasien.