Pergantian tahun Hijriah menjadi momen penting bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Saat matahari terbenam di akhir Zulhijah, kalender Islam memasuki lembaran baru.

Malam 1 Muharram kerap diisi dengan memperbanyak ibadah seperti membaca Al-Qur'an, berdoa, menghadiri majelis ilmu, dan berdzikir.

>>> Pasar Keuangan Korea Selatan Menguat Tajam Imbas Redanya Konflik AS dan Iran

Dzikir memiliki kedudukan tinggi karena pahalanya besar tanpa terikat biaya, tempat, maupun waktu.

Para ulama menyarankan agar malam Tahun Baru Islam dioptimalkan untuk mengingat Allah, bukan sekadar perayaan seremonial.

Meski tidak ada dzikir khusus yang ditetapkan dalam hadis untuk malam tersebut, umat Islam tetap dianjurkan memperbanyak dzikir, terutama di bulan-bulan mulia.

Landasan Dzikir dalam Al-Qur'an dan Hadis

Al-Qur'an memerintahkan orang beriman untuk berdzikir sebanyak-banyaknya. Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya" (QS Al-Ahzab: 41).

Keutamaan dzikir diperkuat dalam hadis qudsi riwayat Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW menyampaikan bahwa Allah bersama hamba-Nya ketika ia mengingat-Nya.

Pilihan Bacaan Dzikir Sambut Bulan Muharram

Merujuk pada buku "Berlimpah Harta dengan Beragam Dzikir, Shalat, dan Puasa Khusus" karya Muhammad Arifin Rahman, terdapat sejumlah bacaan dzikir yang lazim diamalkan saat menyambut Muharram.

Amalan pertama adalah membaca tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir sebanyak 10 kali: "Subhaanallaah walhamdu lillaah wa laa ilaaha illallaah wallaahu akbar."

Artinya: Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar.

Selanjutnya, memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Bacaan: "Allahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammad."

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad.