Sebanyak 13 negara peserta Piala Dunia 2026 secara resmi melayangkan protes keras terhadap pernyataan Presiden UEFA Aleksander Ceferin.

Polemik ini muncul di tengah bergulirnya Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

>>> 10 Kebiasaan Keuangan yang Membedakan Orang Kaya dan Miskin Menurut Robert Kiyosaki

Ceferin sebelumnya mengkritik perluasan format kompetisi menjadi 48 tim. Ia menilai pertandingan akan kurang menarik karena penurunan standar kompetisi akibat bertambahnya kuota kualifikasi.

Pernyataan itu memicu reaksi dari 13 negara, yaitu Cape Verde, Curacao, Uzbekistan, Kongo, Haiti, Aljazair, Tunisia, Maroko, Mesir, Ghana, Senegal, Afrika Selatan, dan Pantai Gading.

Mereka merilis pernyataan bersama yang menyuarakan kekecewaan mendalam. “Dengan hormat namun tegas, kami menolak komentar-komentar tersebut,” demikian bunyi pernyataan itu.

“Bagi negara kami, tidak ada pertandingan Piala Dunia yang tidak penting.

Bagi Cape Verde, Curacao, dan Uzbekistan, kualifikasi ke Piala Dunia merupakan pencapaian bersejarah dan perwujudan mimpi beberapa generasi.”

“Bagi negara-negara seperti Kongo dan Haiti, kembali ke panggung sepak bola terbesar setelah absen lama memiliki makna khusus bagi jutaan pendukung yang telah menunggu bertahun-tahun.”

“Mengatakan bahwa pertandingan-pertandingan ini kurang penting adalah hal yang sangat mengecewakan dan gagal mengakui upaya, pengorbanan, dan aspirasi para pemain, pelatih, klub, pemimpin sepak bola, dan pendukung di seluruh dunia,” lanjut pernyataan tersebut.

Simbol Kebanggaan dan Universalitas Sepak Bola

Pernyataan bersama juga menekankan arti penting setiap proses yang dilalui negara peserta untuk menembus putaran final.

“Di balik setiap kualifikasi terdapat kerja keras dan investasi selama bertahun-tahun.

>>> Rupiah Diprediksi Fluktuatif Sepekan ke Depan, Berpotensi Melemah