Tradisi tersebut menjadi ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil pertanian dan anugerah alam yang mereka terima sepanjang tahun.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat menggelar prosesi persembahan kepala kerbau beserta berbagai sesaji menuju kawah Merapi. Ritual ini diyakini sebagai bentuk permohonan keselamatan sekaligus upaya menolak mara bahaya bagi warga yang bermukim di sekitar gunung.

Selain itu, malam 1 Suro juga identik dengan berbagai kirab budaya yang melibatkan masyarakat dalam jumlah besar.

  • Kirab sirah maeso atau arak-arakan kepala kerbau.
  • Kirab saji Gunung Merapi.
  • Kirab ratusan obor yang berlangsung pada malam hari.

Sejumlah catatan budaya menyebut tradisi malam 1 Suro memiliki keterkaitan dengan ritual tolak bala yang pernah dijalankan pada masa Pakubuwono X di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta.

Hingga sekarang, sejumlah wilayah di Solo Raya masih mempertahankan peringatan malam 1 Suro melalui ritual adat, doa bersama, hingga kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat setempat.

Tak sedikit pula daerah yang menghadirkan pertunjukan tari tradisional dan pentas kesenian sebagai bagian dari rangkaian perayaan malam 1 Suro.

Dengan demikian, malam 1 Suro 2026 akan dimulai pada Senin malam, 15 Juni 2026, dan berlanjut pada Selasa, 16 Juni 2026 yang bertepatan dengan 1 Muharam 1448 Hijriah.