Sebaliknya, produsen ponsel asal China yang mendominasi segmen harga murah kemungkinan besar akan mengambil langkah produksi yang lebih konservatif.

Keputusan ini diambil akibat lonjakan biaya komponen serta persaingan yang semakin ketat dari Huawei.

Kondisi tersebut membuat para vendor lebih berhati-hati dalam menentukan volume perangkat yang akan diproduksi.

Mereka juga membuka kemungkinan untuk menurunkan target produksi tahunan apabila tekanan biaya komponen terus berlangsung.

Segmen ponsel pintar kelas murah dan menengah diprediksi menjadi area yang paling terdampak oleh fenomena ini.

>>> Samsung Galaxy Watch Ultra 2 Dikabarkan Punya Baterai Lebih Besar dan Chipset Snapdragon

Ruang keuntungan atau margin pada perangkat kelas entry-level umumnya jauh lebih tipis dibandingkan dengan ponsel kelas premium.

TrendForce mencatat ketidakpastian ini sudah mulai terlihat pada kinerja Xiaomi, Oppo, dan Vivo.

Masing-masing vendor tersebut memproduksi 26 juta unit, 29,5 juta unit, dan 22 juta unit pada kuartal pertama 2026.

Ketiga raksasa teknologi tersebut dilaporkan sedang menghadapi tekanan profitabilitas yang berat akibat lonjakan biaya memori. Target produksi tahunan mereka berpotensi direvisi turun jika kondisi pasar tidak kunjung membaik.

Nasib serupa juga mengintai Transsion, yang merupakan induk dari merek Infinix, Tecno, dan Itel.

Perusahaan ini dinilai sangat rentan terhadap kenaikan harga komponen karena fokus utamanya pada ponsel harga terjangkau dengan margin tipis.

Posisi Samsung dan Apple di Tengah Tekanan Industri

Di tengah tekanan yang melanda industri global, Samsung dan Apple justru diperkirakan berada dalam posisi yang jauh lebih aman.

Kedua raksasa teknologi ini dinilai lebih mampu menyerap kenaikan biaya memori berkat kekuatan finansial yang kokoh.

Samsung berhasil mempertahankan statusnya sebagai produsen ponsel paling produktif di dunia dengan mencatat angka produksi sekitar 62,6 juta unit.