Penempatan server di dasar laut memungkinkan pembuangan panas secara alami, memotong konsumsi daya listrik lebih dari 20 persen dibanding pusat data darat.

Metode ini juga mengurangi kebutuhan air tawar.

United Nations University Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH) memprediksi konsumsi air global pusat data bisa mencapai 9,3 triliun liter pada 2030.

Angka itu setara kebutuhan domestik tahunan penduduk Afrika Sub-Sahara.

Meski efisien, pakar lingkungan menyoroti potensi dampak ekologis seperti gangguan sedimen dan kenaikan suhu air lokal.

Namun, profesor biologi kelautan Rick Stafford dari Bournemouth University menyatakan sebaran panas tidak akan meluas jauh.

>>> BAKTI Kominfo: Starlink Bukan Ancaman, Justru Bantu Pemerataan Internet

Adopsi pusat data bawah laut dinilai sebagai langkah solutif untuk mengurangi jejak karbon dan penggunaan air di tengah ekspansi infrastruktur AI global.