Secara kuantitas, pasar kerja Indonesia menambah 1,9 juta pekerja pada periode Agustus 2024 hingga Agustus 2025.

Kondisi ini menekan tingkat pengangguran terbuka hingga menyentuh angka 4,9 persen.

Namun, sekitar setengah dari lapangan kerja baru itu berpusat pada sektor dengan produktivitas rendah.

Sektor tersebut mencakup pertanian, perdagangan eceran, serta jasa konstruksi, sementara sektor dengan keahlian tinggi seperti jasa keuangan justru stagnan.

Fenomena Setengah Menganggur dan Penurunan Upah Riil

Laporan tersebut juga menggarisbawahi tingginya angka underemployment atau setengah menganggur di tanah air. Kondisi ini mencerminkan situasi pekerja yang jam kerja atau pendapatannya belum memenuhi kebutuhan ideal.

Pada tahun 2025, angka setengah menganggur ini menyentuh level 32,7 persen dan menunjukkan tren kenaikan sejak 2022.

>>> AC Milan Dekati Matthias Jaissle dan Ruben Amorim untuk Kursi Pelatih

Fenomena ini membuktikan bahwa status bekerja tidak otomatis membebaskan masyarakat dari kerentanan ekonomi.

Di sisi lain, upah riil bagi kelompok pekerja terdidik dengan kualifikasi menengah dan tinggi justru mengalami kemerosotan.

Sejak tahun 2018, pendapatan riil kelompok ini tergerus antara 1 persen hingga 2 persen per tahun.

Situasi tersebut mengindikasikan bahwa tingkat pendidikan tinggi belum menjamin kompensasi yang lebih baik. Sebagian tenaga kerja terdidik terpaksa bergeser ke sektor informal dengan produktivitas rendah.

Penyusutan Populasi Kelas Menengah

Dampak akumulatif dari dinamika ketenagakerjaan ini memicu perubahan signifikan pada struktur pendapatan masyarakat. Bank Dunia mencatat penurunan tajam pada proporsi pekerja dengan penghasilan kelas menengah.

Pada tahun 2018, kelompok pekerja yang menikmati standar pendapatan kelas menengah berada di angka 14,5 persen.

Angka tersebut merosot hingga menyisakan sedikit di atas 7 persen pada tahun 2025, atau menyusut hampir separuh dalam rentang tujuh tahun.