Masing-masing memiliki katalis berbeda: normalisasi CoC untuk BBRI, efisiensi skala untuk BRIS, dan potensi operating leverage besar untuk BBTN.

Victor juga menyoroti potensi tekanan Net Interest Margin (NIM) di tengah kenaikan suku bunga acuan.

Meski kenaikan BI Rate secara teori dapat mendorong kenaikan yield kredit, persaingan ketat di sisi pendanaan dinilai akan membuat biaya dana meningkat lebih cepat.

Dalam skenario konservatif, kenaikan biaya dana berpotensi lebih cepat dibandingkan kenaikan yield kredit. Tekanan NIM masih berlanjut di sektor perbankan.

Bank dengan basis dana murah (CASA) kuat seperti BBCA dinilai lebih mampu bertahan. Bank yang lebih bergantung pada deposito berjangka dan pendanaan wholesale akan lebih tertekan.

Meski masih terdapat risiko arus modal asing keluar dan ketidakpastian ekonomi domestik, BRI Danareksa Sekuritas menaikkan rekomendasi sektor perbankan dari Netral menjadi Overweight.

Koreksi harga yang dinilai berlebihan dibandingkan fundamental menjadi alasan utama.

Valuasi saat ini sudah terlalu konservatif terhadap prospek laba sektor. Penurunan harga saham dinilai sudah melampaui fundamentalnya.

Dalam kondisi ini, BBCA tetap menjadi pilihan utama (top pick), diikuti BTPS.

Keduanya dinilai memiliki kualitas ROA tinggi dan struktur leverage yang lebih defensif terhadap risiko kenaikan cost of credit.

Risiko utama terhadap pandangan ini berasal dari penurunan kualitas aset yang lebih tajam dari perkiraan serta tekanan margin yang lebih besar dari ekspektasi.

>>> Likuiditas Perbankan Indonesia Tetap Sehat per April 2026

BRI Danareksa memberikan rekomendasi saham perbankan sebagai berikut: BBCA buy target Rp10.900, BMRI buy target Rp6.200, BBNI buy target Rp4.700, BRIS buy target Rp3.100, BBTN buy target Rp1.500, BTPS buy target Rp1.400, dan BNGA buy target Rp2.100.