Sejumlah legenda bulutangkis nasional juga hadir memantau performa peserta sejak hari pertama.

Hendrawan, Juara Dunia 2001, menyambut positif perluasan jangkauan wilayah seleksi.

Menurutnya, audisi ini menjadi cara menjemput bakat dan membuka peluang lebih luas bagi bibit-bibit baru, terutama di daerah yang sebelumnya sulit menjangkau Kudus.

Mengenai kriteria penilaian sektor putri, Hendrawan mengungkapkan adanya penyesuaian terhadap perkembangan tren permainan.

Perhatian utama tertuju pada regulasi skor baru BWF, yakni format 15 poin x 3 gim (best of three) yang mulai diterapkan Januari 2027.

Untuk atlet putri, penguasaan teknik, footwork, dan kontrol lapangan menjadi aspek utama. Namun, faktor mental dan fighting spirit juga diperhatikan, terutama saat memasuki fase akhir seleksi.

>>> Cara Daftar GoPayLater di Aplikasi Gojek dengan Mudah

Leonard Holvy de Pauw selaku Koordinator Tim Pencari Bakat Atlet Putra memaparkan penilaian sektor putra fokus pada perpaduan kemampuan dasar, karakter, dan kecerdasan bertanding.

Kriteria utama mencakup kualitas pukulan awal, kelincahan kaki, tenaga, keagresifan, dan ketahanan fisik.

Holvy menambahkan, pihaknya mencari pemain yang memiliki basic kuat, agresif, dan endurance tinggi.

Yang terpenting adalah atlet yang smart dan punya fighting spirit, mampu membaca permainan dan mengantisipasi lawan sejak dini.

Ia juga melihat karakter pemain luar Jawa, khususnya dari Sumatra dan Sulawesi, yang umumnya memiliki strength, daya juang, dan fisik lebih kuat.

Ini menjadi modal penting yang bisa dikembangkan melalui pembinaan di PB Djarum.

Sistem Seleksi dan Karantina

Sistem seleksi diawali tahap screening dengan format gugur. Setiap laga berlangsung satu gim mencapai poin ke-21 tanpa deuce, dengan perpindahan posisi lapangan pada poin ke-11.