Secara konseptual, desa telah ditempatkan sebagai subjek pembangunan melalui prinsip rekognisi dan subsidiaritas. Namun dalam praktiknya, dukungan sumber daya sering terbatas.

Kewenangan yang dimiliki desa tidak selalu diiringi kemampuan mengeksekusi program secara optimal. Akibatnya, jarak antara kebijakan dan kenyataan menjadi terasa.

Desa perlahan kehilangan daya tariknya bagi sebagian warganya. Bukan karena desa tidak memiliki potensi, tetapi karena potensi itu belum sepenuhnya berkembang.

Urbanisasi bergerak bukan hanya karena kota menawarkan lebih banyak, tetapi juga karena desa belum mampu mempertahankan warganya. Ini adalah hasil dari tarikan kota dan dorongan dari desa.

Jika kondisi ini terus berlanjut, arus urbanisasi pasca-Lebaran akan tetap menjadi siklus tahunan. Ia akan terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pertanyaan tentang mengapa desa kehilangan warganya tidak cukup dijawab dengan melihat ke mana mereka pergi. Yang lebih penting adalah memahami apa yang membuat mereka harus pergi.

Selama desa belum mampu menawarkan kepastian ekonomi, akses, dan kualitas hidup, perpindahan akan tetap menjadi pilihan yang logis.

>>> Jadwal Lengkap Piala Dunia 2026: Era Baru 48 Tim Dimulai

Urbanisasi adalah refleksi dari harapan yang berpindah tempat.