Aroma tumisan oncom yang berpadu dengan kencur, bawang putih, dan cabai selalu berhasil menciptakan daya tarik kuliner yang memikat.

Perpaduan nasi hangat yang diaduk bersama oncom berbumbu ini melahirkan hidangan tradisional khas masyarakat Sunda yang dikenal sebagai tutug oncom.

>>> Ruang Hijau di Desa Menyusut, Tanda Kehilangan Keseimbangan?

Keistimewaan kuliner tradisional ini semakin disadari melalui sebuah pengalaman dalam konferensi internasional di Kelantan, Malaysia.

Saat itu, salah seorang peserta dari luar negeri mengungkapkan kekagumannya terhadap kuliner Jawa Barat tersebut, khususnya nasi tutug oncom dan kerupuk udang.

Bagi warga asing tersebut, paduan rasa gurih dan keharuman tutug oncom menyajikan sensasi yang berbeda dari olahan nasi berbumbu lainnya.

Pengalaman kuliner mereka semakin lengkap berkat tambahan tekstur renyah dari kerupuk udang.

Momen di luar negeri tersebut memberikan perspektif baru bahwa kuliner yang dianggap biasa di daerah asal ternyata mampu memberikan kesan mendalam bagi orang lain.

Jika disajikan dengan lauk pauk yang tepat, hidangan ini menjelma menjadi pangan lokal padat gizi untuk keluarga.

Alternatif Sehat di Tengah Hidangan Bersantan

Momen Lebaran di Indonesia biasanya didominasi oleh makanan kaya santan seperti rendang, opor ayam, dan ketupat.

Menu tradisional ini telah menjadi hidangan wajib yang disajikan secara turun-temurun saat hari raya.

Namun, mengonsumsi makanan bersantan secara terus-menerus sering kali memicu keluhan pencernaan hingga kekhawatiran terhadap lonjakan kolesterol.

Tubuh pun sering kali terasa lebih berat setelah mengonsumsi hidangan-hidangan tersebut.

Oleh karena itu, kehadiran variasi hidangan yang seimbang menjadi sangat krusial di meja makan.

Pangan lokal yang kaya serat dan protein nabati seperti tutug oncom dapat menjadi alternatif yang menyehatkan tanpa mengurangi kehangatan momen makan bersama.