Ketika berkunjung ke kampung halaman, percakapan dengan kerabat sering kali mengarah pada satu topik: jumlah pepohonan yang semakin sedikit.

Sawah mulai kehilangan produktivitas karena debit air menurun.

>>> WhatsApp, Instagram, dan Facebook Alami Gangguan Akses Bersamaan

Para petani kini bergantung pada irigasi, namun hasil panen tidak selalu sebanding dengan biaya hidup yang terus naik.

Di tengah situasi itu, banyak anak muda memilih merantau ke kota. Perubahan cuaca juga terasa: musim kemarau sulit diprediksi, hujan datang tanpa pola jelas.

Pohon-pohon besar yang dulu mudah ditemui kini jarang terlihat. Padahal, suasana kampung dulu terasa sejuk dengan ruang hijau yang melimpah.

Desa Hadapi Tantangan Serupa Kota

Isu berkurangnya ruang terbuka hijau tidak hanya milik perkotaan. Desa-desa kini menghadapi tantangan serupa.

Lahan yang dulu ditumbuhi pepohonan perlahan beralih fungsi. Pembangunan jalan beton dan perluasan permukiman menjadi kebutuhan yang sulit dihindari.

Konsekuensinya, pohon-pohon yang telah tumbuh puluhan tahun harus ditebang. Ruang hijau semakin menyempit.

Perubahan ini terjadi secara akumulatif dari berbagai keputusan. Pembangunan sering diukur dari banyaknya bangunan, seolah kemajuan identik dengan beton dan aspal.

Dampak yang Mulai Terasa

Perubahan lingkungan perlahan berdampak pada kehidupan sehari-hari. Rumah yang dulu sejuk tanpa alat kini membutuhkan kipas angin atau pendingin ruangan.

Pepohonan besar yang memberi keteduhan alami semakin jarang. Fungsi alam sebagai penyeimbang tergantikan oleh teknologi yang membutuhkan energi lebih besar.

Konsumsi energi meningkat, sementara tantangan global seperti keterbatasan energi dan polusi udara semakin nyata. Kendaraan memenuhi jalan, jumlah pohon penyerap polutan justru berkurang.

Situasi ini menunjukkan bahwa pembangunan tanpa keseimbangan dapat memunculkan persoalan baru yang tidak terlihat dalam jangka pendek.