Banyak orang menyimpan barang lama karena dianggap menyimpan cerita dan kenangan. Namun, kebiasaan ini bisa berubah menjadi masalah jika tidak terkendali.

Seorang pria yang akrab dipanggil Pakde sejak kecil dikenal sangat menyukai barang-barang lawas. Ketertarikannya semakin kuat setelah orang tuanya meninggal.

>>> Pertamina Pasang PLTS di Kapal OB Patra 2303 untuk Tekan Emisi Karbon Sektor Maritim

Ia mulai mengumpulkan berbagai benda peninggalan, seperti radio era 1980-an, kaset, keris, patung, tas kulit, lampu klasik, lukisan, dan topeng.

Semua dirawat dengan telaten dan dianggap sangat berharga.

Seiring waktu, koleksinya terus bertambah. Rumah mulai dipenuhi barang hingga ruang gerak terbatas, dan sebagian barang dialihkan ke rumah anggota keluarga lain.

Antara Kenangan dan Kebiasaan Menyimpan

Batas antara barang kenangan dan barang kesayangan mulai kabur. Koleksi yang awalnya peninggalan keluarga bercampur dengan barang yang dibeli karena ketertarikan semata.

Keluarga mulai merasa tidak nyaman karena dampaknya pada kehidupan sehari-hari. Setiap kali diingatkan untuk mengurangi barang, Pakde justru menolak dan menunjukkan emosi.

Memahami Hoarding Disorder

Setelah diskusi dan pemeriksaan, perilaku tersebut didiagnosis sebagai hoarding disorder.

Kondisi ini ditandai dengan kesulitan membuang barang, kecemasan saat ada upaya mengurangi barang, dan rumah yang tidak berfungsi optimal.

Dampaknya tidak hanya fisik, seperti ruang sempit dan kualitas udara menurun, tetapi juga emosional. Suasana rumah menjadi tegang dan interaksi keluarga terganggu.

>>> IHSG Pekan Depan Diproyeksi Bergerak pada Rentang 5.900 Hingga 6.220

Menariknya, hoarding disorder tidak selalu berakar pada gangguan psikologis berat. Ia bisa tumbuh dari kebiasaan yang dibiarkan atau rasa nyaman saat dikelilingi barang tertentu.

Mencari Jalan Tengah