PT Bank KB Tbk (KB Bank) menyesuaikan kepemilikan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan kondisi likuiditas, perkembangan pembiayaan, dan dinamika pasar keuangan terkini.

Langkah ini dikonfirmasi di Jakarta pada Kamis (11/6/2026) sebagai upaya menjaga keseimbangan aset.

>>> GIPI Siapkan Strategi Pariwisata Jelang Libur Sekolah 2026

Data Bank Indonesia mencatat kepemilikan bank pada SRBI mencapai Rp 677,89 triliun per Mei 2026, atau 69,18% dari total outstanding SRBI.

Dominasi perbankan dalam instrumen ini meningkat signifikan dibandingkan tahun lalu yang hanya 62,03%.

Saat ini, Bank Indonesia melelang SRBI dengan tingkat bunga 7,1% hingga 8,65%.

Proyeksi dan Strategi KB Bank

Presiden Direktur KB Bank Kunardy Darma Lie memproyeksikan porsi kepemilikan SRBI masih berpotensi naik dalam jangka pendek.

Penambahan didorong imbal hasil kompetitif dan kebutuhan menjaga likuiditas di tengah permintaan kredit yang moderat.

"Proyeksi kepemilikan SRBI ke depan bersifat selektif dan adaptif.

>>> Demo Mahasiswa di Sudirman-Thamrin Ganggu Transjakarta dan MRT

Dalam jangka pendek, kepemilikan berpotensi bertambah karena SRBI menawarkan imbal hasil yang kompetitif sekaligus membantu menjaga likuiditas," ujar Kunardy.

Hingga Mei 2026, nilai kepemilikan surat berharga KB Bank mencapai Rp 20,01 triliun, naik 6,09% secara tahunan.

Penyaluran kredit perusahaan tumbuh 3,83% year-on-year menjadi Rp 43,52 triliun pada periode yang sama.

Namun, Kunardy menegaskan KB Bank dapat mengurangi porsi SRBI dalam jangka menengah jika ekspansi pembiayaan menguat.

Dana likuiditas akan dialokasikan optimal ke sektor produktif.

Faktor penentu kebijakan investasi meliputi kebijakan moneter BI, suku bunga global, dan kompetisi penghimpunan dana domestik.

>>> Cara Ajukan Bantuan Laboratorium IPA SMA 2026 Lewat SIMASPRAS

Pendekatan ini diterapkan untuk menjaga stabilitas profitabilitas dan penyaluran pembiayaan perusahaan.