Menghadapi situasi ini, Andri Fauzan menyarankan investor memanfaatkan koreksi tajam tahun ini sebagai momentum akumulasi dengan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) disiplin di bawah US$65.000.

"Alokasikan hanya 5%-10% portofolio agar tetap nyaman, dan fokus hodling melewati 2026 menuju 2027.

Pantau on-chain metric seperti supply in loss yang mulai mendominasi, sinyal historis bottom semakin dekat," kata Andri.

Panji Yudha menambahkan bahwa koreksi ke US$63.000 telah memberikan margin of safety bagi investor jangka panjang.

Ia merekomendasikan strategi "Swing Alts, DCA BTC" untuk menghadapi konsolidasi sisa 2026.

Strategi tersebut menempatkan 50% portofolio pada cash atau stablecoin untuk mengantisipasi volatilitas, seperti diversifikasi ke dolar AS melalui USDT dan USDC yang nilainya menguat hampir 8% YTD terhadap rupiah.

Sebesar 30% dialokasikan pada Bitcoin sebagai aset inti dengan akumulasi bertahap sepanjang tahun untuk mengoptimalkan potensi keuntungan tahun depan.

Sisa 20% dapat ditempatkan pada altcoins dengan narasi fundamental kuat dan likuiditas tinggi, seperti sektor Decentralized Exchange (Perp DEX), Real World Assets (RWA), dan Artificial Intelligence (AI).

>>> Semen Indonesia Resmikan Fasilitas Ekspor di Tuban, Targetkan Pasar AS

"Strategi yang digunakan adalah swing trading jangka pendek, di mana keuntungan harus segera dikonversi kembali ke stablecoin," kata Panji.