Nilai tukar rupiah menguat 59 poin atau 0,33 persen menjadi Rp17.930 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (12/6/2026) pagi.

Penguatan ini dipicu respons positif pelaku pasar terhadap keputusan mendadak Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan.

>>> Chandra Asri Group dan UNTIRTA Kerja Sama Kelola Sampah Kampus

Sebelumnya, rupiah sempat terpuruk hingga nyaris menyentuh level Rp18.200, tepatnya di posisi Rp18.196 per dolar AS pada Senin (8/6/2026) siang berdasarkan data Bloomberg.

Namun mata uang domestik berbalik menguat setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen pada Selasa (9/6/2026).

Pada perdagangan Rabu (10/6/2026) sore, rupiah ditutup menguat di level Rp17.944 per dolar AS.

Meskipun demikian, data Refinitiv menunjukkan rupiah sempat kembali tertekan ke level Rp17.980 per dolar AS pada penutupan Kamis (11/6/2026) sore seiring keperkasaan indeks dolar AS (DXY) global yang stabil di level 99,979.

Respons Pasar terhadap Kebijakan BI

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menjelaskan bahwa kebijakan BI Rate tersebut berhasil menarik minat investor asing terhadap aset domestik.

Selain itu, pasar juga sedang mencermati data inflasi produsen (PPI) AS dan negosiasi AS-Iran terkait pasokan energi.

"Pergerakan rupiah masih mendapat dukungan dari keputusan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen.

Kebijakan tersebut mendapat respons positif dari investor asing dan turut meningkatkan minat terhadap aset domestik, sehingga membantu menjaga optimisme pelaku pasar terhadap pasar keuangan Indonesia," ungkap Amru kepada ANTARA di Jakarta, Jumat (12/6/2026).

Amru menambahkan bahwa potensi kesepakatan AS dan Iran dapat meredakan ketegangan geopolitik sekaligus menekan harga minyak dunia yang menguntungkan devisa Indonesia.