Sektor perbankan diprediksi menghadapi tantangan besar pada tahun 2026. Laju pertumbuhan keuntungan diperkirakan lebih terbatas akibat tekanan dana di era suku bunga tinggi.

Analis Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi dan Ahnaf Yassar, menyebut suku bunga acuan yang tinggi dan pelemahan rupiah sebagai hambatan utama.

>>> DANA Cicil: Bayar Tagihan Bertahap, Ini Syarat dan Cara Aktivasinya

Kedua faktor itu memicu kenaikan biaya dana (cost of fund/CoF), terutama pada bank yang mengandalkan deposito berjangka dengan bunga tinggi.

Situasi tersebut menggerus margin bunga bersih (net interest margin/NIM). Kenaikan bunga simpanan bergerak lebih cepat dibandingkan kenaikan bunga kredit.

Kondisi pasar juga menunjukkan peningkatan risiko kualitas aset perbankan. Lonjakan biaya pinjaman terjadi di tengah daya beli masyarakat yang masih lemah.

Pelemahan rupiah memicu kekhawatiran inflasi impor. Tekanan ini diproyeksi memperpanjang era suku bunga tinggi dan memperpanjang tekanan terhadap NIM.

Samuel Sekuritas pun menyesuaikan prospek keuangan industri perbankan.

"Akibat kenaikan biaya dana, tekanan NIM, dan potensi peningkatan pencadangan kredit, kami menurunkan proyeksi pertumbuhan laba agregat bank dalam cakupan untuk tahun 2026 menjadi hanya 1,8% secara tahunan, dari sebelumnya 4,6%," tulis Prasetya dan Ahnaf dalam riset, Jumat (12/6/2026).

Sepanjang empat bulan pertama tahun ini, akumulasi laba bersih empat bank terbesar di Indonesia mencapai Rp 62,1 triliun.

Angka itu tumbuh 8% secara tahunan dan memenuhi 37% dari total proyeksi laba setahun penuh setelah direvisi.

Indikator penyusutan margin perbankan mulai terlihat.

>>> Oh Hyeon-gyu Cetak Gol Kemenangan Korea Selatan atas Ceko di Piala Dunia 2026

NIM gabungan turun 18 bps dalam setahun menjadi 5,1%, sementara yield aset merosot 46 bps, lebih tinggi dari penurunan CoF yang 31 bps.