Pada abad ke-7 Masehi, ketika Nabi Muhammad SAW menyebarkan Islam di Jazirah Arab, di Nusantara terdapat seorang pemimpin perempuan yang sangat disegani.

Ia adalah Ratu Shima, penguasa Kerajaan Kalingga yang terkenal karena ketegasan, kejujuran, dan keberaniannya dalam menegakkan hukum.

>>> Keutamaan Membaca Surah Al Mulk Sebelum Tidur, Pelindung dari Siksa Kubur

Kemasyhuran kepemimpinannya bahkan terdengar hingga ke Jazirah Arab, memicu rasa penasaran seorang raja Arab untuk membuktikan kebenaran kabar tersebut.

Prinsip keadilan yang diterapkan Ratu Shima membuat namanya terus dikenang hingga berabad-abad kemudian.

Hidup Sezaman dengan Nabi Muhammad

Ratu Shima lahir sekitar tahun 611 Masehi, hampir berdekatan dengan periode awal kehidupan Nabi Muhammad SAW yang lahir sekitar tahun 570 M.

Momentum ketika Nabi menerima wahyu pertama pada tahun 610 M dan memulai dakwah bertepatan dengan masa hidup perempuan yang kelak memimpin Kerajaan Kalingga ini.

Buku Sandyakala: Kejayaan dan Kemasyhuran Kerajaan Nusantara karya Joko Darmawan dan Rita Wigira Astuti menyebutkan adanya keterkaitan sang ratu dengan dinamika dinasti besar di Jawa dan Sumatera.

Literatur Belanda, termasuk kajian Frederik David Kan Bosch, mengindikasikan Ratu Shima memiliki hubungan dengan Dinasti Syailendra.

Pusat Perdagangan di Pesisir Utara Jawa

Kerajaan Kalingga, yang kerap diidentifikasi sebagai Holing atau Keling, bertempat di pesisir utara Pulau Jawa.

Berdasarkan catatan sejarah dari China, pusat kerajaan ini diperkirakan berada di wilayah yang sekarang menjadi Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Letak geografis yang strategis membuat Kalingga berkembang menjadi simpul perdagangan internasional yang penting. Jalur pelayaran ini menghubungkan para pedagang dari India, China, dan berbagai kawasan di Asia Tenggara.