Hukuman Tegas untuk Putra Mahkota

Situasi berubah drastis setelah tiga tahun berlalu ketika putra mahkota Kerajaan Kalingga secara tidak sengaja menyentuh pundi-pundi emas tersebut dengan kakinya.

Kejadian ini langsung dilaporkan kepada Ratu Shima.

Ratu Shima menganggap tindakan sang putra tetap merupakan bentuk pelanggaran hukum, sekalipun dilakukan tanpa ada unsur kesengajaan.

Ia pun langsung menjatuhkan vonis hukuman mati kepada putranya sendiri, yang memicu keterkejutan para pejabat istana.

Para menteri kemudian memohon agar hukuman tersebut diringankan karena tidak ada niat buruk dari sang pangeran untuk mencuri.

Ratu Shima akhirnya mengubah keputusan dengan menjatuhkan hukuman potong jari kaki, sebagai simbol bahwa hukum berlaku adil bagi seluruh golongan termasuk keluarga kerajaan.

Keteguhan Moral yang Tetap Relevan

Para ahli sejarah memandang narasi Ratu Shima bukan sekadar tentang pemberian sanksi hukum yang berat.

Kisah ini merefleksikan bagaimana sebuah sistem pemerintahan mestinya mengutamakan aspek integritas dan keadilan transparan.

Ketika banyak peradaban kuno membedakan perlakuan hukum antara rakyat jelata dan kaum bangsawan, Kalingga justru menjadikan keluarga penguasa sebagai teladan utama.

Nilai moral inilah yang menjaga nama besar Ratu Shima tetap hidup lintas generasi.

Pada era kontemporer, di saat persoalan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan masih menjadi tantangan global, prinsip hidup Ratu Shima kembali relevan.

>>> BPS Imbau Masyarakat Terima Petugas Sensus Ekonomi 2026

Kemajuan suatu negara terbukti tidak hanya bersandar pada kekuatan militer atau ekonomi, melainkan pada kekuatan karakter pemimpin dan masyarakatnya.