Buku Cerita Rakyat di Jepara karya Vanessa Almayra dan Erna Zumrotun menjelaskan bahwa ramainya aktivitas pelayaran membawa kabar tentang Kalingga ke berbagai penjuru dunia.

Tingkat kejujuran masyarakat Kalingga yang sangat tinggi menjadi pembeda utama kerajaan ini dari wilayah lainnya.

Penegakan Hukum Tanpa Pandang Bulu

Ratu Shima naik takhta sekitar tahun 674 hingga 695 Masehi setelah suaminya, Prabu Kartikeyasingha, wafat. Dalam menjalankan pemerintahan, ia menerapkan kedisiplinan yang sangat ketat terhadap aturan yang berlaku.

Kejujuran dijadikan sebagai fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat di Kalingga. Segala bentuk pelanggaran hukum seperti pencurian dan penipuan akan langsung ditindak tegas tanpa melihat kedudukan sosial pelakunya.

Ketegasan kebijakan ini berhasil membangun budaya masyarakat yang menjunjung tinggi integritas.

Kronik dari Dinasti Tang di China mencatat bahwa hukum di Kerajaan Holing berjalan sangat ketat, sehingga reputasi Ratu Shima makin dikenal luas oleh para pelaut asing.

Ujian Kejujuran dari Penguasa Arab

Kisah mengenai integritas masyarakat Kalingga akhirnya sampai ke telinga seorang penguasa di Arab, yang dalam dokumen kuno China disebut berasal dari Ta-Shih.

>>> Spacex Cetak Rekor IPO Terbesar Sepanjang Masa, Kumpulkan Rp1.222 Triliun

Istilah Ta-Shih biasa digunakan untuk merujuk pada bangsa Arab.

Buku Mengenal Kerajaan-Kerajaan Nusantara karya Deni Prasetyo mengisahkan rasa penasaran sang raja Arab terhadap kebenaran kabar tersebut.

Untuk mengujinya, ia mengirimkan satu pundi-pundi penuh berisi emas dan meletakkannya di tengah persimpangan jalan yang ramai.

Waktu berlalu dari hitungan hari, bulan, hingga berganti tahun, namun pundi-pundi emas tersebut tetap berada di posisi semula.

Tidak ada satu pun warga kerajaan yang berani menyentuh atau memindahkan barang berharga yang bukan menjadi hak mereka.