Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan stimulus ekonomi untuk meredam dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax 92. Langkah ini diambil untuk melindungi daya beli masyarakat.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pemerintah sedang menggodok kebijakan menjaga daya beli. BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar tidak mengalami kenaikan harga.

>>> Bank Indonesia Naikkan Yield SRBI ke Rekor Tertinggi 7,57 Persen

Harga Pertamax naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter. Kenaikan ini dipicu oleh fluktuasi harga minyak mentah global.

Dampak terhadap Inflasi dan Konsumsi

Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun memperkirakan kenaikan harga BBM akan mendorong inflasi. Namun, dampaknya tidak terlalu ekstrem karena Pertamax mayoritas digunakan konsumen ritel.

Misbakhun menambahkan bahwa potensi perpindahan konsumsi ke Pertalite cukup besar. Selisih harga antara Pertamax dan Pertalite mencapai Rp6.250 per liter.

Pemerintah masih menghitung sektor mana yang akan diberikan stimulus atau insentif. Diskusi dan penghitungan sedang berlangsung.

>>> PHE OSES Tingkatkan Efisiensi Operasi Hulu Migas Lewat Program Nawasena

Juru bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menjelaskan bahwa harga BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar. Kenaikan harga minyak dunia memaksa adanya penyesuaian.

Anggia membenarkan risiko perpindahan massal konsumen ke produk bersubsidi. Harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Solar Rp6.800 per liter.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menegaskan bahwa harga baru Pertamax dikoordinasikan dengan pemerintah. Langkah ini untuk menjaga keberlanjutan penyediaan energi.

>>> Korea Selatan Kalahkan Ceko 2-1 di Laga Perdana Piala Dunia 2026

Total pagu anggaran subsidi dan kompensasi energi nasional pada 2026 mencapai Rp381,3 triliun.