Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Komdigi mengungkapkan penyebab tingginya biaya operasional menara BTS di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Pelaksana Tugas Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi, Darien Aldiano, menjelaskan bahwa biaya operasional satu site BTS di daerah 3T bisa mencapai Rp30 juta per bulan.

>>> KABAR DUKA! Putri Bajrakitiyabha Meninggal Dunia Usai 3 Tahun Koma, Thailand Siapkan Berkabung Nasional

Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan biaya operasional BTS di perkotaan yang hanya berkisar Rp15-20 juta per bulan.

Penyebab Mahalnya Biaya Operasional

Menurut Darien, lonjakan biaya dipicu oleh penggunaan konektivitas satelit akibat ketiadaan infrastruktur serat optik maupun microwave di daerah terpencil.

Operator terpaksa menggunakan Very Small Aperture Terminal (VSAT) untuk menangkap sinyal satelit sebagai backhaul transmisi data.

"BTS itu tidak serta-merta dibangun tower, kemudian kencang. Dari tower itu harus punya dapurnya.

Koneksi di belakang, backhaul-nya. Kalau tidak ada di daerah tersebut, mau tidak mau pakai VSAT.

Nah kalau pakai VSAT ini jadinya mahal dan terbatas," papar Darien.

Selain biaya operasional yang tinggi, penggunaan VSAT juga berdampak pada kapasitas data yang terbatas.

>>> PLTU Jeranjang Pangkas Konsumsi Batu Bara Lewat Cofiring Sampah Organik

Darien menyebutkan kapasitas maksimal BTS dengan VSAT saat ini hanya sekitar 12 Mbps, yang harus dibagi oleh puluhan hingga ratusan pengguna.

Akibatnya, kualitas internet di wilayah 3T sering kali lambat ketika digunakan secara bersamaan untuk aplikasi seperti TikTok atau YouTube.

Di sisi lain, jumlah pengguna yang minim di daerah pelosok membuat operator sulit mencapai skala ekonomi yang menguntungkan.

"Cost-nya tinggi, tapi misalnya satu desa usernya 400 atau 300 orang, atau mungkin 200. Menggunakan paket data juga mungkin yang hemat," ujar Darien.

Meskipun secara bisnis dinilai tidak komersial bagi operator swasta, pemerintah melalui BAKTI Komdigi tetap hadir untuk menyediakan layanan internet di daerah 3T.

"Jadi memang harus ada pihak yang bisa memberikan layanan kepada masyarakat di daerah 3T," tegas Darien.

>>> BI dan PBOC Sepakat Jajaki Peningkatan Nilai Kerja Sama Swap

Pihaknya berharap publik dapat memahami disparitas kualitas jaringan antara wilayah pelosok dan perkotaan, serta faktor-faktor yang memengaruhinya.