Pada 2020, BI juga telah mengamankan akses likuiditas dolar Amerika Serikat melalui kerja sama Repurchase Agreement Line (repo line) dengan The Federal Reserve (The Fed) yang bernilai US$60 miliar.

Fungsi Strategis dan Antisipasi Gejolak Global

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai bahwa perluasan nilai BCSA dapat berperan sebagai bantalan tambahan saat tekanan di pasar valas sedang merangkak naik.

Meski begitu, Josua memberikan catatan bahwa instrumen ini bukan merupakan amunisi utama dalam mengawal fluktuasi harian kurs rupiah, layaknya operasi intervensi valas yang rutin dijalankan oleh BI di pasar spot dan DNDF.

"Dalam kondisi sekarang, BCSA boleh saja disiapkan atau bahkan digunakan secara terbatas apabila tekanan likuiditas valas meningkat tajam, tetapi komunikasinya harus hati-hati," ujar Josua.

Menurut Josua, kegunaan mendasar dari BCSA adalah sebagai jaring pengaman yang menyediakan akses likuiditas dalam mata uang negara mitra dagang.

Instrumen ini berfungsi mengerek kepercayaan pasar terhadap kapasitas BI dalam meredam gejolak, menyokong aktivitas perdagangan dan investasi lewat mata uang lokal, serta memangkas ketergantungan terhadap dolar AS pada transaksi bilateral.

Melalui rencana ekspansi nilai swap dengan China serta kesiapan jaringan pengaman yang tersebar di berbagai bank sentral dunia, BI berupaya memastikan ketersediaan pasokan likuiditas tetap kokoh.

>>> Geek Fam Tantang Onic Esports di Final Upper Bracket MPL ID S17

Langkah antisipatif ini diambil guna memelihara stabilitas pasar keuangan domestik dan menjaga daya tahan rupiah di tengah ketidakpastian global yang meningkat.