Penyatuan dimulai sejak Jumat Legi bulan Jumadil Akhir tahun 1555 Saka, bertepatan dengan 8 Juli 1633 Masehi.

Sejak itu, hari pertama bulan Suro selalu jatuh bersamaan dengan 1 Muharram.

Kata 'Suro' diserap dari 'Asyura' dalam bahasa Arab yang berarti 'sepuluh'. Ini merujuk pada tanggal 10 Muharram untuk memperingati wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Husein, di Karbala.

>>> Kenali Tanda Pola Asuh Berhasil Lewat Sikap Anak yang Menguji Kesabaran

Ragam Tradisi di Surakarta dan Yogyakarta

Keraton Surakarta dan Yogyakarta memiliki ciri khas tersendiri dalam menyambut malam 1 Suro. Meski bersumber dari warisan Mataram yang sama, perbedaan menciptakan ragam prosesi ritual yang unik.

Keraton Surakarta identik dengan Kirab Kebo Bule Kyai Slamet. Kerbau bule ini merupakan keturunan hewan kesayangan Paku Buwono II pemberian Kyai Hasan Besari dari Ponorogo.

Warga rela berdesakan hingga berebut kotoran kebo bule karena diyakini membawa berkah. Tradisi kirab keluar tembok ini dimulai sekitar tahun 1973 atas saran Presiden Soeharto.

Perayaan di Keraton Yogyakarta identik dengan mengarak keris dan benda pusaka. Ada juga tradisi Mubeng Beteng, yaitu berjalan kaki mengelilingi benteng keraton tanpa berbicara.

Konsep Mubeng Beteng dipengaruhi ritual pradaksina searah jarum jam untuk kebutuhan lahiriah, dan prasawya berlawanan arah jarum jam sebagai simbol ilmu kesempurnaan batiniah.

Masyarakat awam juga menyambut bulan Suro dengan laku prihatin seperti tirakatan atau tidak tidur semalaman. Kegiatan lain meliputi menonton wayang kulit, jamas pusaka, hingga ritual ruwatan.

Mitos dan Fakta di Balik Kesakralan Malam 1 Suro

Malam 1 Suro dipenuhi berbagai mitos yang berkembang turun-temurun. Berikut beberapa mitos dan fakta yang membentuk sudut pandang spiritual masyarakat.