Menurut analisis Migration Observatory, University of Oxford, Piala Dunia 2026 diperkirakan menampilkan pemain kelahiran luar negeri terbanyak sepanjang sejarah.

>>> Rupiah Menguat ke Rp 17.939 per Dolar AS pada Jumat Pagi

Indonesia tengah menapaki jalur serupa melalui naturalisasi pemain diaspora, terutama dari Belanda. Pemanfaatan ikatan darah ini mengubah luka sejarah kolonial menjadi kolaborasi profesional yang saling menguntungkan.

Fair Play dan Luka yang Belum Sembuh

Di sinilah pesan terdalam sepak bola terbaca: kerja sama dan fair play yang melintasi sekat ras dan bangsa.

Contoh ikonik adalah pertemuan 1998 di Lyon, ketika pemain Iran menyodorkan mawar putih kepada pemain Amerika Serikat di tengah permusuhan diplomatik.

FIFA mengganjar kedua tim dengan Fair Play Award.

Setiap pertandingan adalah latihan kecil hidup berdampingan dengan menghormati lawan, tunduk pada keputusan wasit, dan menerima kekalahan dengan lapang.

Namun, panggung yang sama juga memantulkan luka. Pada final Euro 2020, tiga pemain kulit hitam Inggris diserang ujaran rasis setelah gagal mengeksekusi penalti.

Di Eropa, pelecehan terhadap Vinícius Júnior melahirkan “Vinicius Law” di Brasil.

FIFA merespons dengan kebijakan toleransi nol lewat kampanye “Global Stand Against Racism”. Visi besar FIFA bertumpu pada moto “Football Unites the World”, sepak bola menyatukan dunia.

Perluasan menjadi 48 tim membuka peluang bagi lebih banyak asosiasi anggota. Program FIFA Forward menyalurkan investasi untuk pengembangan sepak bola di tiap negara.

FIFA juga meluncurkan “FIFA Peace Prize” pada Desember 2025.

Namun, visi agung itu kerap berbenturan dengan realitas politik.

Edisi 2026 menyimpan ironi: untuk pertama kalinya tuan rumah menerima tim dari negara yang sedang berkonflik militer dengannya, saat delegasi Iran menghadapi pembatasan visa ketat.

Keberhasilan multikultural sepak bola sering bersifat momentum. Euforia kemenangan menyatukan untuk sesaat, tetapi belum sepenuhnya mencabut akar prasangka yang tertanam dalam masyarakat dan negara.

Dari Hindia Belanda 1938 hingga Amerika Utara 2026, sepak bola berperan sebagai sekolah multikulturalisme dunia. Sekolah ini belum pernah benar-benar meluluskan murid-muridnya.

>>> Aliran Modal Asing Masuk ke Indonesia Setelah BI Rate Naik Jadi 5,50%

Jika sembilan puluh menit mampu membuat dua bangsa bermusuhan berfoto bersama, mengapa pelajaran itu cepat dilupakan setelah peluit panjang dibunyikan?