Sementara untuk bensin, nilai kerugian korporasi mencapai sekitar 9 rupee per liter.

>>> BEM UI Minta Maaf Atas Kemacetan Akibat Demo di Bundaran HI

Kondisi ini berbanding terbalik dengan mekanisme penjualan BBM untuk sektor industri. Penjualan kepada pelanggan korporasi menggunakan skema harga pasar yang lebih tinggi, sehingga memberikan margin keuntungan bagi perusahaan.

Terdapat tiga perusahaan energi milik negara yang menanggung dampak langsung dari situasi ini. Ketiga emiten tersebut adalah Indian Oil Corporation, Bharat Petroleum Corporation, dan Hindustan Petroleum Corporation.

Peran ketiga perusahaan tersebut sangat vital bagi ketahanan energi nasional.

Mereka menguasai sekitar 90 persen pangsa pasar dari total lebih dari 100.000 unit SPBU yang beroperasi di seluruh India.

Imbas Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah

Dalam keputusan resminya, pemerintah India mengaitkan kebijakan ini dengan eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah.

Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mengganggu jalur logistik pengiriman minyak mentah dunia.

Ketegangan geopolitik tersebut secara langsung menekan rantai pasok minyak global serta memengaruhi ketersediaan produk hilir energi. Dampak ini mulai dirasakan oleh negara-negara importir maupun konsumen minyak besar.

India sebenarnya berstatus sebagai negara eksportir bersih untuk produk bahan bakar hasil kilang. Secara umum, kapasitas produksi dan pasokan energi domestik masih dalam kategori memadai.

Namun, lonjakan permintaan di pasar domestik yang menikmati harga subsidi dinilai berisiko tinggi. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat merusak stabilitas jaringan distribusi dan mengancam kesehatan finansial perusahaan negara.

Pembatasan ketat terhadap pembelian bensin dan solar ini dipastikan memiliki batas waktu operasi.

>>> Manchester United Mundur dari Perburuan Gelandang Elliot Anderson

Kebijakan tersebut akan diberlakukan selama maksimal 90 hari ke depan, kecuali ada keputusan baru dari pemerintah untuk mencabutnya lebih awal.