Salah satu peluang adalah perjanjian dagang Indonesia dengan Eropa yang memberikan bea masuk nol persen untuk produk tekstil Indonesia.

"Pemerintah juga mengatur supaya di border betul-betul ketat.

Presiden sudah memerintahkan agar bea cukai jadi kekuatan ekonomi kita, dengan membatasi barang ilegal, tidak memenuhi standar, dan barang yang merusak pasar dalam negeri," sebut Riza.

Sementara itu, Direktur Gajah Group Dedy Zein mengatakan PT Gajah Angkasa Perkasa mampu memproduksi total 3 juta meter produk garmen per bulan.

Produksi tersebut untuk memenuhi pasar dalam negeri dan ekspor, khususnya seragam militer dan pemerintahan di Malaysia, Jepang, dan India.

Dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 85%, Dedy optimistis dapat terus menambah negara tujuan ekspor.

Targetnya meliputi Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Prancis, Inggris, Spanyol, Korea Selatan, Vietnam, Papua Nugini, dan Kanada.

"Kami berharap ke depannya bisa mengekspor bahan jadi, specialty menjadi uniform (seragam) militer dan pemerintah di negara lain," tutur Dedy.

>>> Penjualan Kendaraan Elektrifikasi Indonesia Capai 93.839 Unit per Mei 2026

Selain baju seragam, PT Gajah Angkasa Perkasa juga memproduksi berbagai produk garmen seperti sepatu, tanda pangkat, kain batik, hingga sepatu.