Gelombang penawaran umum perdana (IPO) dari sejumlah perusahaan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) berkapitalisasi besar diprediksi menjadi katalis utama pasar keuangan global pada 2026.

Namun, momentum ini berpotensi menekan likuiditas pasar aset digital dalam jangka pendek.

>>> Saham BBRI Melemah ke Rp2.850 Setelah Sempat Menguat

Tiga korporasi besar yang bersiap melantai di bursa diperkirakan memiliki akumulasi nilai valuasi mendekati US$ 3 triliun.

SpaceX memimpin dengan taksiran valuasi US$ 1,5 triliun hingga US$ 1,75 triliun, serta berpeluang menjaring dana segar hingga US$ 75 miliar.

OpenAI diproyeksikan memiliki valuasi sekitar US$ 850 miliar, sementara Anthropic berada pada rentang US$ 380 miliar hingga US$ 965 miliar.

Skala IPO yang masif ini diperkirakan memicu daya tarik kuat bagi pemodal global untuk menggeser dana ke pasar saham AS.

Aksi korporasi ini berjalan di tengah situasi pasar aset digital yang masih berkonsolidasi tanpa arah.

Data CoinMarketCap per 12 Juni 2026 menunjukkan Bitcoin diperdagangkan pada level US$ 63.555, terkoreksi sekitar 21% dalam sebulan terakhir.

Direktur Operasional Bittime Ryan Lymn menjelaskan bahwa pergerakan pasar kripto yang menyamping berpeluang memicu perpindahan modal. Investor cenderung mencari instrumen baru yang menjanjikan pertumbuhan lebih tinggi.

"Dalam jangka pendek, kondisi ini berpotensi menarik sebagian likuiditas dari berbagai kelas aset, termasuk pasar kripto," ujar Ryan dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).

>>> Kenaikan Harga Batu Bara Dorong Penyesuaian Harga Semen

Menurutnya, pemodal institusi maupun ritel berpotensi menata ulang portofolio demi mendapatkan porsi kepemilikan pada saham baru emiten teknologi dan AI raksasa.

Pergeseran dana tersebut dinilai wajar saat muncul instrumen baru dengan daya tumbuh besar. Meski begitu, Bittime melihat fenomena ini tidak menjadi ancaman bagi masa depan aset digital.