Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI) menyatakan lonjakan harga batu bara industri berpotensi memicu penyesuaian harga semen domestik.

Langkah ini diambil di tengah daya beli masyarakat yang masih tertekan dan utilisasi pabrik yang belum pulih sepenuhnya.

>>> Humpuss Maritim Internasional Catatkan Aset US$ 346,16 Juta pada 2025

Kenaikan harga batu bara di pasar internasional mengacu pada Indonesia Coal Index (ICI) dengan kisaran US$20 hingga US$21 per ton.

Dampak paling dirasakan produsen semen swasta non-BUMN karena tidak mendapat jaminan pasokan energi melalui skema Domestic Market Obligation (DMO).

Ketua Umum ASPERSSI Lilik Unggul Raharjo memaparkan lonjakan harga bahan bakar langsung berdampak signifikan pada struktur biaya manufaktur.

"Dampaknya ke COGM [cost of goods manufactured] atau ongkos produksi naik sekitar 14% sampai 17%," ujarnya.

Tekanan baru dari sektor energi memperberat beban operasional yang sebelumnya meningkat akibat kenaikan harga solar dan komponen impor seperti kantong semen.

Penyesuaian harga jual sulit dihindari demi menjaga margin usaha, namun besaran kenaikan diprediksi tidak sebanding dengan lonjakan biaya produksi.

"Pabrikan pastinya akan menyesuaikan harga walaupun tidak berani sebesar kenaikan harga-harga tadi termasuk batu bara," kata Lilik.

Meski utilisasi pabrik semen hingga Mei 2026 menunjukkan perbaikan dibandingkan periode sama tahun lalu, kenaikan harga komoditas energi berisiko menahan laju pemulihan.

>>> Kawasaki Luncurkan Modenas Brusky 125 di Jakarta Fair 2026, Harga Rp 26,5 Juta

Kenaikan harga di pasar hilir juga dikhawatirkan memicu penurunan volume penjualan nasional.

"Kalau daya beli masyarakat tidak mampu menyesuaikan harga semen dan proyek infrastruktur menurun, ada potensi permintaan turun dan utilisasi pabrik juga akan turun," tutur Lilik.