Apabila suhu udara berada di titik sangat dingin, jatuhnya air dapat berwujud kepingan salju.

Penyebab Perbedaan Jenis Presipitasi

Berdasarkan data dari NOAA NESDIS, partikel pembentuk hujan memerlukan materi inti agar uap air dapat menempel.

Materi inti ini dapat berupa partikel debu, serbuk sari, maupun kristal es berukuran kecil.

Kondisi dinamis di dalam awan menjadi faktor penentu jenis presipitasi yang akan turun ke permukaan bumi.

Hujan air terjadi saat tetesan air yang sudah terlalu berat jatuh melewati lapisan udara bersuhu hangat.

Salju terbentuk jika suhu di dalam awan beserta sepanjang jalur jatuhnya konsisten berada di bawah titik beku 0°C.

Fenomena hujan es terjadi akibat angin kencang di dalam awan badai (updraft) yang meniup kembali tetesan air ke atas hingga membeku.

Proses ini berlangsung berulang kali sampai bongkahan es menjadi berat lalu jatuh ke bumi.

Jenis lainnya adalah hujan pembeku (freezing rain) yang terjadi ketika salju mencair saat jatuh, namun langsung membeku seketika begitu menyentuh permukaan bumi yang bersuhu sangat dingin.

Awan dalam siklus ini memegang fungsi sebagai sarana transportasi yang memindahkan volume air ke berbagai belahan dunia.

>>> Review Lexus ES 350h Generasi Kedelapan: Desain Sporty yang Berani

Tanpa adanya perputaran ini, sebaran air di bumi menjadi tidak rata dan mengancam kelangsungan makhluk hidup.