"Saat ini, dengan musik dan semua jenis musik, tidak masalah apakah itu Piala Dunia, reggaeton, atau hip-hop, rentang perhatian orang hanya sekitar lima detik," ucap J Balvin.

Ia berpendapat bahwa dinamika emosional di dalam stadion sepak bola harus terefleksikan sepenuhnya di dalam karya musik.

"Sepak bola menyatukan kita, dengan segala suka dan duka yang berbeda," katanya.

Penyanyi asal Kolombia itu menutup penjelasannya dengan menyoroti variasi perasaan yang muncul selama pertandingan berdurasi 90 menit.

"Semua emosi yang berbeda ini terjadi dalam satu permainan," ujarnya.

Pandangan senada disampaikan oleh Nora Fatehi, penyanyi Kanada-Maroko yang berkolaborasi dengan Vegedream dan Sanjoy lewat lagu "Siir, Siir".

Menurutnya, musik pengiring turnamen ini harus bisa mentransmisikan mentalitas juara kepada setiap orang yang mendengarkannya.

"Lagu itu butuh irama yang bagus karena kita di sini untuk berdansa dan kita perlu merayakan," kata Nora Fatehi.

Ia menerangkan bahwa komposisi nada dalam proyek lagu tersebut dirancang secara khusus untuk membangun kepercayaan diri pendengar.

"Lagu itu bermakna memotivasi pendengar agar merasa seperti pemenang sejak detik pertama lagu diputar," ungkap Nora Fatehi.

Pernyataan ini diperkuat oleh musisi senior Wyclef Jean, yang pernah terlibat dalam lagu resmi Piala Dunia 2014 di Brasil bersama gitaris Carlos Santana.

"Intinya? Lagu itu harus mampu membangkitkan semangat stadion," kata Wyclef Jean.

Ia menjelaskan bahwa getaran energi massa di arena pertandingan menjadi indikator utama keberhasilan sebuah lagu kebangsaan turnamen.

"Anda benar-benar harus merasakan seluruh stadion bergetar. Jika tidak, lagu kebangsaan itu tidak akan berhasil," ungkap Wyclef Jean.

Dirinya menilai bahwa elemen ritme tetap menjadi bahasa universal yang melintasi batasan geografis maupun bahasa nasional.