Akamai Technologies mencatat pendapatan tahunan di atas USD 1 miliar di Asia Pasifik (APAC) pada tahun 2025.

Pencapaian ini menjadi pijakan perusahaan untuk memperkuat ekspansi teknologi kecerdasan buatan (AI) ke arah pengguna akhir.

>>> Model AI Canggih Mulai Tunjukkan Kemampuan Cegah Rekannya Dimatikan

Perusahaan teknologi tersebut kini mengalihkan fokus bisnis regional mereka untuk memfasilitasi implementasi AI melalui proses inferensi di edge.

Strategi pertumbuhan baru di kawasan Asia Pasifik ini dipimpin oleh Sean Li yang baru saja ditunjuk sebagai Senior Vice President of Sales dan Managing Director.

"Kawasan Asia-Pasifik kini telah melewati tahap eksperimen AI dan memasuki tahap eksekusi," kata Sean Li dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Pihak manajemen menjelaskan bahwa infrastruktur cloud konvensional saat ini tidak dirancang untuk menangani beban kerja inferensi real-time dalam skala besar.

Oleh karena itu, Akamai memindahkan beban kerja tersebut ke platform cloud terdistribusi guna mendekatkan komputasi berbasis GPU kepada data pengguna.

"Tantangan sesungguhnya pada saat ini adalah memastikan bahwa AI dapat berfungsi dengan baik di lingkungan nyata di mana latensi, skalabilitas, dan keandalan secara langsung memengaruhi pendapatan dan pengalaman pelanggan.

Dengan memindahkan proses inferensi ke edge, kami menghadirkan platform bagi perusahaan-perusahaan agar mereka dapat menerapkan AI secara instan, aman, dan dalam skala yang tidak dapat ditandingi oleh cloud terpusat," lanjut Sean Li.

Langkah taktis ini diambil demi mengakomodasi kebutuhan pasar regional yang beragam terhadap adopsi kecerdasan buatan.

Pasar matang seperti Jepang dan Australia lebih memilih model infrastruktur terkelola, sedangkan negara berkembang seperti India, Tiongkok, dan Asia Tenggara membutuhkan kecepatan skala besar.