Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang telah membuktikan bahwa mereka mampu mengalahkan tim-tim elite dunia. Hal ini menunjukkan bahwa batas antara negara favorit dan nonfavorit semakin tipis," ucap Fary.

"Karena itu, saya melihat Piala Dunia 2026 bukan sekadar pertarungan memperebutkan trofi, melainkan pertarungan antara tradisi dan inovasi.

Jika negara-negara favorit gagal beradaptasi dengan dinamika baru turnamen, maka peluang lahirnya juara kejutan akan semakin terbuka," tuturnya.

Peluang Sejarah Baru

Meskipun menempatkan Spanyol dan Prancis sebagai kandidat terkuat, Fary meyakini Belanda mempunyai kesempatan besar mengakhiri penantian panjang mereka.

"Namun apabila terjadi kejutan besar, maka Belanda memiliki peluang menjadi juara baru pertama dari Eropa Barat dalam era modern.

Sedangkan Jepang berpotensi menciptakan sejarah sebagai negara Asia pertama yang mengangkat trofi Piala Dunia," paparnya.

>>> Wasit Omar Artan Dilarang Masuk AS, Gagal Pimpin Piala Dunia 2026

"Bila skenario tersebut terjadi, maka Piala Dunia 2026 akan dikenang bukan karena mempertahankan dominasi lama, melainkan karena menjadi titik awal lahirnya tatanan baru sepak bola dunia, di mana keberhasilan ditentukan oleh kualitas sistem, inovasi, dan kemampuan bertransformasi, bukan semata-mata oleh reputasi masa lalu," terangnya.