Piala Dunia 2026 akan segera dimulai dengan laga pembuka antara tuan rumah Meksiko melawan Afrika Selatan di Estadio Azteca, Mexico City.

Turnamen ini mencetak sejarah karena diselenggarakan di tiga negara: Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

>>> Jadwal Lengkap Babak Grup Piala Dunia 2026: 12 Juni hingga 20 Juli

Edisi kali ini juga menerapkan format baru dengan 48 negara peserta.

Penambahan jumlah kontestan serta kemajuan teknologi pelatihan, sport science, dan analisis data dinilai memperkecil jarak kualitas antarnegara.

Dewan Pembina Garudayaksa FC Academy, Fary Djemy Francis, melihat peta persaingan sepak bola dunia berpotensi menghadirkan wajah baru.

Menurutnya, dominasi negara tradisional saat ini tidak sekuat beberapa dekade lalu.

"Kini, keberhasilan tidak lagi semata ditentukan oleh nama besar, tetapi kualitas sistem, kedalaman skuad, dan kemampuan beradaptasi.

Dalam konteks tersebut, Belanda dan Jepang layak disebut sebagai dua kekuatan disruptif Piala Dunia 2026," ujar Fary.

Fary menjelaskan bahwa Timnas Belanda masih mempertahankan filosofi permainan yang kuat serta tradisi panjang melahirkan pemain kelas dunia.

"Dengan kombinasi pemain senior dan generasi baru yang matang di liga-liga elite Eropa, Belanda berpotensi menjadi 'silent contender' yang perlahan menyingkirkan para unggulan hingga mencapai partai puncak," jelasnya.

Kemajuan Berbasis Sistem

Selain Belanda, perkembangan Timnas Jepang juga menjadi sorotan sebagai representasi sepak bola modern.

>>> Pemeriksaan Ketat AS terhadap Timnas Uzbekistan Tuai Kecaman

Kemajuan Tim Samurai Biru dinilai lahir dari sistem yang kokoh, pembinaan usia muda berkelanjutan, dan budaya kerja konsisten.

Jepang mengandalkan disiplin kolektif serta perencanaan jangka panjang daripada bertumpu pada individu.

"Yang menarik, jika Belanda mewakili evolusi kekuatan sepak bola tradisional Eropa, maka Jepang mewakili masa depan sepak bola global yang berbasis sistem.