Pasar keuangan kemungkinan merespons dalam dua tahap.

>>> Zulkifli Hasan Targetkan Pembenahan Makan Bergizi Gratis Rampung Sebulan

Tahap pertama berupa relief rally, seperti terlihat pada 9 Juni 2026 ketika IHSG melonjak 7,57% dari 5.342,137 ke 5.746,648 setelah rupiah menguat.

Tahap kedua akan lebih selektif karena investor mulai menghitung dampak bunga tinggi terhadap kredit, laba emiten, valuasi saham, dan pertumbuhan ekonomi.

Jika rupiah bertahan di bawah tekanan psikologis Rp18.000, CDS menurun, dan yield SBN stabil, IHSG dapat melanjutkan pemulihan secara bertahap.

Sebaliknya, jika rupiah kembali melemah dan CDS tetap tinggi, tekanan terhadap saham dan obligasi dapat muncul kembali.

Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya mengatakan kenaikan suku bunga acuan merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak gejolak global akibat perang di Timur Tengah.

Langkah ini juga bersifat pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap dalam kisaran sasaran 2,5±1%.

"Kebijakan ini juga ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil bagi daya tarik masuknya aliran investasi portofolio asing ke Indonesia," ucap Perry.

Dalam evaluasi sejak RDG 18-19 Mei 2026, nilai tukar rupiah menunjukkan perkembangan yang lebih lemah dari perkiraan akibat gejolak global, tingginya permintaan valas dalam negeri, dan aliran keluar investasi portofolio asing.

Oleh karena itu, BI memandang perlu menempuh langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi rupiah dengan meningkatkan imbal hasil dan insentif lain dalam operasi moneter.

>>> AS Masukkan BYD ke Daftar Hitam Militer Pentagon

"Stabilisasi nilai tukar rupiah ditempuh agar ketahanan eksternal ekonomi Indonesia tetap terjaga dan sasaran inflasi 2026 dan 2027 tetap tercapai," tutup Perry.