"Jika pasar mulai memperkirakan harga minyak US$95 atau lebih untuk waktu yang lama, itu akan mengubah pandangan secara total dan memunculkan skenario stagflasi," kata Ielpo.

Stagflasi adalah kondisi ketika inflasi tetap tinggi sementara pertumbuhan ekonomi melambat. Situasi seperti ini biasanya menjadi tantangan bagi pasar saham maupun obligasi.

Mengapa Investor Khawatir terhadap Obligasi?

Ketika inflasi meningkat, bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya.

Kondisi tersebut membuat obligasi yang sudah beredar menjadi kurang menarik dibanding instrumen baru yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Karena alasan itulah pasar obligasi saat ini lebih sensitif terhadap prospek inflasi dibanding risiko geopolitik semata.

Reuters melaporkan sejumlah manajer investasi mulai mengurangi eksposur terhadap obligasi pemerintah dan beralih ke instrumen yang lebih terlindungi dari inflasi.

Perubahan perilaku investor juga terlihat dari meningkatnya penggunaan strategi lindung nilai (hedging).

Michael Nizard dari Edmond de Rothschild Asset Management mengatakan pihaknya menambah instrumen derivatif yang dapat memperoleh keuntungan ketika volatilitas pasar meningkat.

Sementara Kevin Thozet dari Carmignac meningkatkan kepemilikan obligasi Amerika Serikat yang terkait inflasi karena menilai pasar masih terlalu tenang dalam memperkirakan kenaikan harga konsumen ke depan.

>>> Harga BBM Nonsubsidi Pertamina Naik Tajam per 10 Juni 2026

Florian Ielpo juga mengaku tetap mempertahankan kepemilikan saham, tetapi mengurangi porsi obligasi pemerintah dalam portofolionya sebagai langkah antisipasi terhadap risiko inflasi yang lebih tinggi.