Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,50 persen pada Selasa (9/6/2026).

Kebijakan ini diambil sebagai langkah strategis untuk mengendalikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

>>> IHSG Melejit 2,71 Persen ke Level 5.902,37 pada 10 Juni 2026

Kenaikan BI Rate langsung mendapat respons positif dari pasar.

Pada Rabu (10/6/2026), rupiah di pasar spot menguat 0,63 persen dan ditutup di level Rp 17.944 per dolar AS, setelah sebelumnya berada di posisi Rp 18.058.

Stabilitas Jangka Panjang Masih Menantang

Meski menguat dalam jangka pendek, stabilitas rupiah ke depan diprediksi masih menghadapi tantangan.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai intervensi melalui suku bunga baru bersifat penanganan jangka pendek.

"Kenaikan suku bunga mampu menahan tekanan jangka pendek, mengurangi ruang spekulasi, dan membuat aset rupiah lebih menarik.

Tetapi stabilitas rupiah yang lebih berkelanjutan tetap membutuhkan kebijakan lanjutan, terutama penguatan pasokan valas, komunikasi fiskal yang lebih meyakinkan, dan kepastian arah kebijakan pemerintah," ujar Josua.

>>> Amerika Serikat Terapkan Aturan Visa Ketat untuk Piala Dunia 2026

Menurut Josua, otoritas moneter sebaiknya menjadikan opsi menaikkan suku bunga sebagai langkah pamungkas. "Jika tekanan rupiah kembali membesar, ruang kenaikan suku bunga lanjutan tetap ada.

Namun, itu sebaiknya menjadi pilihan terakhir karena biayanya terhadap pertumbuhan ekonomi dan bunga kredit akan semakin besar," jelasnya.

Dalam enam bulan terakhir, rupiah telah terdepresiasi sebesar 7,65 persen terhadap dolar AS, menjadikannya mata uang dengan kinerja terlemah di Asia.

Kondisi ini diperparah oleh kehati-hatian investor global yang cenderung memilih instrumen jangka pendek seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Hal ini menjelaskan mengapa rupiah bisa menguat setelah kenaikan BI Rate, tetapi tetap rentan apabila arus keluar dari saham dan SBN berlanjut," tambah Josua.

>>> Menag Ajak Umat Islam Perkuat Persaudaraan di Tahun Baru Hijriah

Josua memproyeksikan pergerakan rupiah pada semester II 2026 akan berada di kisaran Rp 17.500 hingga Rp 17.900 per dolar AS dalam skenario dasar.