Kendati demikian, efisiensi dan daya saing komoditas harus tetap terjaga di tengah ketatnya kompetisi minyak nabati global.

"Namun kita perlu berhati-hati. Pasar minyak nabati dunia sangat kompetitif.

Konsumen memiliki banyak pilihan.

Jika kita terlalu fokus pada pengendalian tanpa meningkatkan efisiensi dan daya saing maka pasar dapat beralih ke pesaing," ujar dia.

>>> Cara Cek Saldo BPJS Ketenagakerjaan Lewat Aplikasi JMO

Bungaran mengingatkan pentingnya menjalankan strategi perdagangan internasional secara cermat agar Indonesia tetap menjadi pemain utama yang dipercaya oleh pasar global.

"Kita juga harus meningkatkan daya tawar tanpa kehilangan pelanggan serta mesti memperkuat posisi nasional tanpa mengurangi efisiensi rantai pasok global yang selama ini telah dibangun," kata dia.

Dampak B50 terhadap Produksi dan Ekspor

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Mukti Sardjono, mengungkapkan bahwa pertumbuhan produksi minyak sawit mentah (CPO) tahun ini masih berada di bawah angka 5%.

Sentimen positif pergerakan ini didorong oleh area peremajaan tanaman (replanting) yang sudah mulai menghasilkan.

Pemberlakuan program bauran biodiesel B50 per 1 Juli 2026 dipastikan mendongkrak konsumsi domestik hingga sekitar 2 juta ton CPO.

Hal ini berpotensi menggeser alokasi komoditas yang biasanya ditujukan untuk pasar internasional.

"Ekspor diprediksi akan sedikit mengalami penurunan karena penerapan B50," tutur Mukti.

Data dari Kementerian ESDM menunjukkan bahwa implementasi kebijakan B50 dapat memicu penurunan volume ekspor sekitar 1,7 hingga 2 juta ton, yang juga berimplikasi pada penurunan perolehan devisa negara.

Jika tidak ada langkah komprehensif untuk mendongkrak produksi, penurunan ekspor pada tahun 2027 bahkan diproyeksikan bisa mencapai 4 juta ton.

Peneliti dan Kasubdiv Riset Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), Dimas Haryo Pamungkas, menegaskan perlunya percepatan peningkatan produksi nasional untuk mengimbangi kebutuhan program B50.