Sebanyak 77% responden menyatakan bahwa inference menjadi aktivitas yang paling dominan ketimbang pelatihan model atau pengembangan awal.

Untuk kawasan APCJ, korporasi rata-rata memakai 3 hingga 4 model AI dalam produksi.

Selain itu, sebesar 65% organisasi di wilayah tersebut sudah memanfaatkan teknologi ini demi kebutuhan otomatisasi operasional secara real-time.

Pergeseran tren tersebut membuat AI tidak lagi dipandang sebagai proyek inovasi yang berdiri sendiri.

Teknologi kecerdasan buatan ini kini diintegrasikan secara langsung ke dalam alur kerja dan aplikasi bisnis harian.

Multicloud dan Hybrid Jadi Fondasi Operasional AI

Laporan SOAS 2026 menegaskan bahwa hybrid multicloud kini menjadi standar baru dalam penyediaan aplikasi dan teknologi AI.

Secara global, terdapat 93% organisasi yang menjalankan lingkungan multicloud.

Sebanyak 86% aplikasi didistribusikan pada kombinasi data center on-premises, public cloud, serta colocation.

Di wilayah APCJ, 91% organisasi masih mempertahankan beberapa data center on-premises dan 87% memanfaatkan lebih dari satu layanan colocation.

>>> Cara Mudah Reset Laptop Windows 11 dan 10 ke Setelan Pabrik

Situasi tersebut memicu kompleksitas baru dalam penegakan kebijakan keamanan, routing trafik, hingga mekanisme fallback antar-cloud.

F5 menilai manajemen membutuhkan strategi terpadu agar workload AI berjalan konsisten tanpa blind spot operasional.

Pendekatan AI-as-a-service murni rupanya mulai ditinggalkan oleh banyak korporasi besar.

Tercatat hanya ada 8% organisasi global yang sepenuhnya bergantung pada layanan AI publik.

Mayoritas perusahaan kini memilih membangun portofolio model AI yang lebih bervariasi untuk dijalankan secara mandiri.

Langkah ini diambil demi mendapatkan kendali penuh atas aspek biaya, akurasi, performa, serta kepatuhan data.

Melalui metode operasional mandiri tersebut, korporasi dapat menentukan sendiri lokasi pemrosesan data AI.