Kecerdasan buatan (AI) kini telah bergeser dari sekadar tahap eksperimen menjadi bagian inti dari operasional perusahaan.

Fenomena ini tercatat dalam laporan tahunan State of Application Strategy (SOAS) 2026 yang dirilis oleh F5.

>>> Sinopsis The Humanity Bureau, Bioskop Trans TV 10 Juni 2026

Riset yang dipublikasikan pada 9 Juni 2026 tersebut menyurvei ratusan pemimpin IT serta keamanan korporasi di berbagai negara.

Data global menunjukkan sebesar 78% organisasi sudah menjalankan AI inference secara mandiri, sementara di wilayah Asia Pasifik, China, dan Jepang (APCJ) angkanya menyentuh 50%.

Transformasi Infrastruktur dan Tantangan Baru

Laporan F5 ini menyoroti transformasi masif terkait cara korporasi mengelola infrastruktur cloud, aplikasi, hingga proteksi digital.

Perubahan ini didorong oleh kehadiran AI generatif dan agentic AI yang mampu bekerja otonom menyerupai manusia.

Chief Product Officer F5, Kunal Anand, menjelaskan bahwa pelaku usaha sekarang menghadapi tantangan baru.

Hal ini terjadi karena AI inference telah diperlakukan layaknya workload produksi lain yang memerlukan keandalan, skalabilitas, dan tata kelola ketat.

"AI telah berubah dari tahap eksperimentasi ke tahap operasional.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah perusahaan akan menggunakan AI, melainkan apakah mereka dapat menjalankannya secara andal, aman, dan dalam skala besar," ujar Kunal Anand dalam keterangan resmi F5.

Country Manager F5 Indonesia, Surung Sinamo, turut menambahkan bahwa tantangan saat ini kian berkembang.

Perusahaan tidak hanya dituntut mengoperasikan model AI, tetapi juga harus mengamankan lalu lintas AI inference, mengelola identitas agen AI, dan menjaga konsistensi kebijakan keamanan di ekosistem hybrid multicloud.

Berdasarkan temuan F5, organisasi di tingkat global rata-rata telah mengoperasikan tujuh model AI dalam fase produksi.