Umat Muslim di seluruh dunia memperingati Tahun Baru Islam setiap 1 Muharram.

Namun, sistem penanggalan Hijriah ternyata baru dirumuskan pada masa Khalifah Umar bin Khattab, bukan pada zaman Nabi Muhammad SAW.

>>> FIFA Umumkan Daftar Penampil Pembukaan Piala Dunia 2026

Prakarsa pembuatan kalender resmi Islam muncul pada tahun ke-17 Hijriah.

Saat itu, Gubernur Basrah Abu Musa Al-Asy'ari mengirim surat kepada Khalifah Umar yang mengeluhkan kesulitan administrasi karena dokumen resmi tidak mencantumkan tahun.

Masyarakat Muslim kala itu masih mengikuti tradisi Arab pra-Islam yang hanya menuliskan tanggal dan bulan tanpa tahun. Kondisi ini mempersulit pengarsipan dan pencatatan surat-surat pemerintahan.

Pembentukan Tim Perumus Kalender

Khalifah Umar kemudian membentuk tim khusus yang berisi sahabat terkemuka.

Mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqas, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Agenda pertama tim adalah menentukan peristiwa bersejarah yang layak menjadi acuan awal kalender.

Beberapa opsi muncul, seperti tahun kelahiran Nabi, Tahun Gajah, pengangkatan sebagai rasul, atau tahun wafatnya Nabi.

Tim akhirnya menyepakati usulan Ali bin Abi Thalib untuk menjadikan momen hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah sebagai permulaan penanggalan.

>>> Piala Dunia 2026 Segera Dimulai, Cek Jadwal Lewat 4 Saluran Ini

Peristiwa hijrah dipilih karena menjadi simbol transisi dari masa jahiliyah menuju peradaban Islam.

Alasan Pemilihan Bulan Muharram

Setelah tahun pertama disepakati, para sahabat berdiskusi menentukan bulan pertama kalender Hijriah.

Usulan menjadikan Rabiul Awwal sebagai bulan pertama sempat muncul karena bertepatan dengan waktu hijrah, namun opsi ini ditolak.

Khalifah Umar menetapkan Muharram sebagai bulan pembuka, didukung oleh Utsman bin Affan.