BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,50% untuk Redam Tekanan Rupiah
Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.
Keputusan ini diambil pada 9 Juni 2026 untuk meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus melemah.
>>> Pemprov DKI Bahas Kenaikan Tarif Transjakarta, Subsidi Tetap Berjalan
Langkah mendadak tersebut dilakukan karena pelemahan mata uang domestik dinilai sudah memasuki fase serius.
Penguatan jangka pendek mulai terlihat di pasar spot pada Rabu (10/6/2026) saat rupiah ditutup menguat 0,63 persen ke level Rp 17.944 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 18.058.
Sinyal Kuat ke Pasar
Pengamat ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai putusan moneter tersebut berfungsi sebagai pengirim sinyal kuat kepada pasar.
Menurutnya, BI membaca pelemahan rupiah sebagai risiko yang dapat menyebar ke ekspektasi inflasi, arus modal, yield SBN, CDS, dan pasar saham.
"BI perlu mengirim sinyal kuat bahwa otoritas moneter tidak membiarkan pasar membentuk ekspektasi depresiasi tanpa batas," ujar Syafruddin.
Ia menambahkan bahwa kebijakan menaikkan suku bunga pada awal Juni menjadi langkah taktis untuk menghentikan penurunan nilai tukar agar tidak meluas menjadi krisis kepercayaan.
Syafruddin menekankan bahwa putusan menaikkan BI Rate ke 5,50% pada 9 Juni 2026 lebih tepat dibaca sebagai kebijakan anti-panik.
>>> Menteri UMKM Siapkan Langkah Mitigasi Dampak Pelemahan Rupiah
"BI ingin menghentikan spiral pelemahan kurs sebelum berubah menjadi krisis kepercayaan yang lebih mahal untuk dipulihkan," katanya.
Meskipun kurs sempat membaik, nilai tukar rupiah tercatat masih melemah sekitar 8,34 persen jika dibandingkan dengan posisi pada Desember 2025.
Syafruddin mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga bukan solusi tunggal karena efektivitas ke depan bergantung pada arus modal asing, indeks dolar AS, CDS, yield SBN, dan komunikasi kebijakan.
Stabilitas jangka panjang mata uang membutuhkan pengelolaan risiko fiskal, kualitas belanja pemerintah, tingkat utang, dan defisit anggaran yang kredibel dari pemerintah.
"Suku bunga dapat meningkatkan daya tarik aset rupiah, tetapi sovereign risk premium tetap menentukan apakah investor percaya pada prospek makro Indonesia," ujar Syafruddin.
Indikator pasar berupa CDS Indonesia tenor 10 tahun terpantau masih berada di kisaran 154,810 per 9 Juni 2026.
Angka ini menunjukkan permintaan kompensasi risiko investasi yang tinggi.
>>> Pemerintah Koordinasikan Jadwal KTT ASEAN-Rusia di Kazan
Syafruddin memperkirakan rupiah akan bergerak stabil jika indeks dolar melemah, intervensi valas BI terukur, rupiah bertahan di bawah Rp 18.000, serta yield SBN tetap stabil.
Update Terbaru
Asperindo Tolak Biaya Tambahan Kargo Udara Jasper dan SGHA
Rabu / 10-06-2026, 17:51 WIB
DPR Soroti Ketergantungan Mesin Impor, Dorong Tambahan Anggaran Kemenperin
Rabu / 10-06-2026, 17:48 WIB
Pembiayaan Cicil Emas BSI Tumbuh Melesat Hingga 97,90 Persen
Rabu / 10-06-2026, 17:46 WIB
Bridgestone Indonesia Bagikan Tips Periksa Ban Mobil Sebelum Perjalanan Jauh
Rabu / 10-06-2026, 17:45 WIB
Prabowo Subianto Larang Pengusaha Muda Bawa Kekayaan ke Luar Negeri
Rabu / 10-06-2026, 17:44 WIB
Pegadaian dan Bank Syariah Nasional Jalin Sinergi Pembiayaan Rp1,4 Triliun
Rabu / 10-06-2026, 17:44 WIB
Logitech Luncurkan Mobi Fold, Mouse Lipat Ultra-Portabel untuk Profesional Mobile
Rabu / 10-06-2026, 17:40 WIB
Kenaikan Harga Pertamax Berpotensi Dorong Inflasi Juni 2026 Mendekati 4%
Rabu / 10-06-2026, 17:40 WIB
PA Jaksel Klarifikasi Rumor Cerai Cita Citata dan Didi Mahardika
Rabu / 10-06-2026, 17:36 WIB
Jayamas Medica Industri Bagikan Dividen Rp110,4 Miliar
Rabu / 10-06-2026, 17:36 WIB
PT Pegadaian Borong Lima Penghargaan HR Asia 2026
Rabu / 10-06-2026, 17:36 WIB
Megawati Hangestri Resmi Gabung Hyundai Hillstate untuk Musim 2026-2027
Rabu / 10-06-2026, 17:36 WIB
Perusahaan Asuransi Ramai Dirikan Perusahaan Baru Demi Spin Off UUS
Rabu / 10-06-2026, 17:35 WIB
Ditjen Pajak Temukan 93.260 Wajib Pajak UMKM Lakukan Pemisahan Perusahaan
Rabu / 10-06-2026, 17:35 WIB






