Nilai tukar rupiah mencatatkan penguatan pada perdagangan Rabu (10/6/2026) siang.

Berdasarkan data pasar spot, kurs rupiah naik 0,61% ke level Rp 17.947 per dolar Amerika Serikat (AS).

>>> Pertamina Resmi Naikkan Harga BBM Non-Subsidi per 10 Juni 2026

Pengamat mata uang Ibrahim Assuabi menyebut apresiasi rupiah akhir-akhir ini lebih dipengaruhi faktor domestik.

Kondisi global justru kurang mendukung akibat meningkatnya konflik geopolitik AS-Iran dan ekspektasi inflasi AS yang tinggi.

Meski demikian, rupiah tertolong oleh respons positif pelaku pasar terhadap langkah strategis pemerintah dan Bank Indonesia (BI).

Salah satu kebijakan kunci adalah kenaikan suku bunga acuan BI sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%.

Akumulasi kenaikan suku bunga acuan BI sepanjang 2026 kini mencapai 75 basis poin.

>>> Pramono Anung Optimistis Kenaikan BBM Dorong Peralihan ke Transportasi Umum

Ibrahim memperkirakan BI akan terus menaikkan suku bunga hingga 200 basis poin atau 2% pada akhir tahun untuk mendukung lelang surat utang negara.

Kebijakan penyesuaian harga BBM non subsidi, seperti Pertamax yang naik menjadi Rp 16.250 per liter, juga mendapat sambutan baik.

Langkah ini dinilai sebagai upaya pemerintah mengurangi beban subsidi energi di tengah ketergantungan impor BBM.

Rangkaian kebijakan tersebut diharapkan mampu menahan tekanan pelemahan rupiah.

>>> Kewajiban Neto Investasi Internasional Indonesia Turun Jadi US$ 227,6 Miliar

Ibrahim meyakini tren penguatan masih berpotensi berlanjut dan risiko rupiah jatuh ke level Rp 19.000 per dolar AS kemungkinan besar tidak terjadi.