Kementerian Pertanian (Kementan) resmi menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian dan perkebunan nasional.

Nota kesepahaman ditandatangani pada Selasa (9/6/2026) di Jakarta.

>>> Taylor Swift Cetak Rekor Streaming Global Lewat Soundtrack Toy Story 5

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, seluruh laboratorium dan kantor Kementan di 38 provinsi dapat digunakan oleh para peneliti BRIN.

"Hari ini kita tanda tangan MoU, kita kolaborasi.

Seluruh lab, kantor Kementerian Pertanian yang berada di tiap provinsi, 38 provinsi, itu bebas digunakan oleh para peneliti dari BRIN seluruh Indonesia," ujarnya dalam konferensi pers.

Pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk mendukung program riset komoditas strategis nasional. "Total anggaran kita kurang lebih Rp 40 triliun.

Ini nanti sambil membina petani.

Bukan percobaan satu hektare dua hektare, ini 10.000 hektare, 5.000 hektare kita awasi bersama," papar Amran.

Fokus pada Komoditas Bernilai Tinggi

Riset dan pembinaan akan diprioritaskan pada tanaman pangan dengan permintaan global tinggi. "Pertama, padi sudah selesai.

Jagung sudah swasembada untuk pakan.

Ke depan kita fokus kedelai, bawang putih, kakao, mete, tebu, dan seterusnya yang demand-nya tinggi tingkat dunia," tutur Amran.

Strategi penanaman akan disesuaikan dengan kecocokan agroklimat dan budaya setempat. "Kita menanam berdasarkan keunggulan komparatif suatu tempat.

>>> Apple Resmi Luncurkan iOS 27 dengan Peningkatan Kinerja dan AI Baru

Iklimnya cocok, budaya masyarakatnya oke, kita kembangkan di situ," jelasnya.

Amran menargetkan minimal 5 ton per hektare untuk produksi padi. "Kalau mintanya saya minimal 5 ton per hektare.

Tapi kalau 3-4 ton per hektare itu sudah bagus," katanya.